Rabu, 24 Juli 2019

One Fine Day

.........(akan sangat sedih untuk sekarang)
Gadis itu masih sibuk menarikan jarinya di atas layar ponselnya. Hari menunjukkan pukul delapan pagi, Faya belum beranjak dari tempat favoritnya. Disamping kanan dan kirinya masih berserakan bantal, guling dan selimut yang menunggu untuk ia kembalikan di habitatnya yang rapi. Ah, itu mungkin angan-angan yang terlalu jauh. Jari-jari dan matanya masih fokus menari di atas layar ponsel, ia masih sibuk menghubungi satu per satu spesies manusia yang mau mengantarkannya ke sebuah mall. Ya, mungkin ia  tidak akan bangun dari istananya sebelum berhasil menemukan orang baik itu. Apalagi hari ini hari minggu, tidak akan mandi sebelum ada acara keluar sepertinya sudah biasa bagi seorang pemalas.
  "Yes!" Gumam Faya mengepalkan tangannya.
"Kenapa?" Tanya Lani spontan yang sedang mengaca di lemari.
Sepertinya ia berhasil menemukan orang itu tepat pukul setengah sebelas. Bagai maling yang dikejar orang sekampung  segera ia lari dengan cepat kilat bangun  dan langsung mengambil baju yang menurutnya cocok. Tepatnya baju yang masih terlihat licin, sehingga ia tidak butuh waktu lama untuk menyetrikanya. Ia akan pergi ke suatu tempat. Disana akan ada acara promosi film dari artis idolanya. Sejak malam Faya sudah gusar memikirkan apa yang akan terjadi pagi ini. Apakah ia bisa bertemu idolanya. Melihat saja mungkin sudah sangat senang. Faya sejak dulu memang seorang yang fanatik dengan dunia hiburan, hampir semua judul film Indonesia sudah pernah ia lihat. Dan ketertarikan pada seorang aktor bernama Jefri Nichol baru dialaminya sejak akhir 2017 lalu. Sejak melihat film pertamanya Faya merasa Jefri punya sorot mata yang tajam yang membuat karismanya semakin kuat selain ketampanannya.
Mbak, sudah siap belum. Aku tunggu di pertigaan masjid ya?
Faya Natalia
Ia mengetik pesan itu kepada Citra, teman satu kelasnya yang tinggal di asrama mahasiswa. Setelah gagal menghubungi puluhan kontak nomor di ponselnya hanya Citra lah yang hari itu bersedia mengantarkannya, meskipun harus dengan iming-iming uang transport. Hal seperti itu bukanlah masalah besar bagi Faya disaat kepepet seperti ini. Bukan karena dia sedang banyak uang atau tabungan tapi karena ia begitu jenuh berada di kos-kosan, menatap buku, jurnal dan laptop. Namun lebih daripada itu keinginannya yang kuat untuk bertemu Jefri sudah tidak dapat ia bendung. Sekitar empat bulan lalu ada acara promosi film dari Jefri Nichol  di kotanya, namun sedikit keberuntungan baginya karena ia mendapat kabar jika Jefri tidak bisa hadir dalam acara tersebut, hanya sang pemeran wanitanya saja. Jika Jefri datang pada saat itu mungkin ia sudah sangat menyesal karena tidak bisa melihatnya. Sejak hari itu ia berpikir mungkin keberuntungan tidak akan datang dua kali. Dan dia tidak boleh melewatkan hari ini.
Hampir lima belas menit pesan yang dikirimkannya kepada Citra belum mendapat balasan.  Menjadi seorang Faya sangat merepotkan, ia adalah seorang penakut yang tidak berani naik sepeda motor sendiri. Alih-alih berangkat naik kendaraan umum sendiri Faya juga tidak seberani itu apalagi tempat yang ia tuju juga baru pertama kali ingin didatanginya.
Aku sudah menghubungi ojek online kampus tapi belum ada balasan Fay, aku belum bisa kepertigaan.
Citra Maulidiya
Terbelalak ia membaca pesan dari Citra tersebut. Bingung, gusar dan air mata sudah membasahi pipinya. Pikiran negatif sudah menghantuinya, hari ini pasti akan gagal. Air mata terus mengalir di pipinya hingga membuat riasan bedaknya luntur sudah. Waktu semakin berjalan ia terus mengerutu pada dirinya sendiri, dan pada Citra dalam hatinya. Kenapa ia tidak mau berusaha berjalan kaki seperti yang ia biasa lakukan ketika sedang kuliah? Kenapa ia harus menunggu ojek online kampus?
Tanpa pikir panjang, ia langsung mengarahkan jemarinya untuk menelpon ojek online kampus.
Saya sudah balas pesan dia sejak tadi kalo saya sedang ada acara jadi saya lagi offline.
Tukang Ojek Kampus
Air mata semakin deras mengucur di pipinya. Berkali-kali pula ia coba mengusapnya agar bedaknya tidak sepenuhnya hilang. Ia begitu benci situasi seperti ini, kenapa harus ada makhluk-mahkluk tidak konsisten yang harus membuka usaha. Dalam hati ia begitu memaki tukang ojek kampus itu. Seharusnya ia konsisten dalam membuka bisnis.
"Kok belum berangkat?" Tanya Lani yang tiba-tiba masuk kamar setelah meninggalkan acara televisinya.
"Gak tau tu pada ribet temen-temen aku" Jawab Faya ketus.
"Emang temen-temen kamu kan semuanya hoax."Jawab Lani sambil terkekeh mengoda Faya.
Semakin kesal saja Faya mendengar ucapan Lani. Begitu Lani keluar kamar ia membekapkan wajahnya ke dalam bantal dan sudah pasrah jika hari ini pasti akan gagal. Ponsel yang sejak tadi ia charger juga tidak kunjung menambah isi baterainya. Bagaimana jika nanti dia benar bertemu Jefri dan gagal mengabadikan wajahnya. Sepertinya hari ini memang bukan harinya untuk bisa melupakan buku, jurnal dan laptop. Skripsi terlalu ringan untuk dilupakan.
Aku sudah ada di pertigaan masjid Faya.
Citra Maulidiya.
Kaget ia membaca satu pesan masuk dari Citra tersebut. Bagaimana mungkin ia bisa secepat itu datang. Ah, sudahlah itu tidak penting. Yang penting adalah hari ini ia tidak boleh gagal.
"Kita nanti naik apa Fa?" Tanya Citra begitu Faya mendekatinya.
"Aku juga tidak tahu mbak" Jawab Faya benar-benar tidak tahu.
"Ya sudah nanti kita naik ojek online saja ya Fa setelah turun dari kapal" tawar Citra.
Entah ini keputusan yang tepat atau tidak ia mengajak Citra. Seharusnya Faya mengajak orang yang tidak hanya bermodalkan berani saja. Ini seperti perpaduan kopi, gula dan susu yang sempurna. Faya dan Citra sama-sama gadis polos yang jarang keluar rumah apalagi bepergian jauh. Faya dan Citra juga sama-sama tidak bisa naik sepeda motor. Dan yang terakhir Faya dan Citra bukanlah orang yang hafal jalanan kota karena memang tidak pernah pergi sendirian. Mungkin hanya satu yang membedakan mereka, Citra jauh lebih pemberani dibandingkan Faya.
Setelah turun dari kapal di Pelabuhan, keduanya berjalan mencari tempat yang teduh untuk minum air putih yang sudah ia bawa. Bagi Faya air putih adalah minuman yang wajib ia bawa ketika akan menghadiri acara promosi film. Pernah sekali ia menghadiri acara yang sama dari aktor yang berbeda, berdesak-desakan, berdiri cukup lama dan berteriak-teriak membuatnya dehidrasi dan hampir mau pingsan. Ini mungkin sesuatu yang aneh, apa yang dicari Faya dengan berdesak-desakan? Jika boleh memilih ia akan tetap memilih hal tersebut bila dibandingkan jalan-jalan ke pantai. Disana ia akan berteriak sekencang-kencangnya, meluapkan emosi kepada orang yang sama sekali tidak memiliki keterikatan batin dengannya. Dikerumunan massa tersebut orang akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan dan ini sangat menyenangkan baginya.
 "Mending kita pesan ojek onlinenya sekalian disini aja Mbak?" Pinta Faya yang terlanjur dalam posisi nyaman.
"Ya sudah" Jawab Citra menurut.
Faya memang biasa memanggil Citra dengan sebutan Mbak. Karena menurut Faya Citra adalah orang yang lebih dewasa darinya. Dari segi usia keduanya memang sama, tapi dari segi kedewasan bisa dibilang Citra lebih dewasa dari Faya. Menurut Faya, Citra adalah orang yang apa adanya, dalam hal apapun terutama dalam hal berpenampilan, tidak neko-neko dan tidak berusaha mengikuti trend. Citra juga adalah satu-satunya teman sekelas yang masih bertahan tinggal di asrama mahasiswa dengan segala peraturannya. Menurut Faya ia tetap bertahan tinggal di asrama adalah karena kedewasaannya. Banyak dari mahasiswa lain yang memilih keluar dari asrama karena tidak tahan dengan peraturan asrama, mereka kebanyakan mengaku tidak bebas beraktivitas di luar asrama karena selalu dibatasi oleh waktu.
"Itu kayaknya orangnya" Celetuk Citra mengarahkan pandangan matanya ke arah sepeda motor dengan pengendara berhelm hijau.
Benar saja itu adalah ojek online yang sudah Citra pesan. Begitu datang orangnya langsung berhenti di depan keduanya dan memastikan nama yang pemesan adalah Citra. Citra memesan dua ojek online, keduanya menggunakan akunnya karena Faya tidak memiliki aplikasi ojek online. Jadi hari ini adalah kali pertama bagi Faya naik ojek online. Hampir sepuluh menit keduanya menengok kanan dan kiri namun ojek online kedua untuk Faya belum menampakkan dirinya.
"Kita tunggu disana saja Mbak" Pinta Bapak ojek online pertama.
Keduanya menganggukan kepala tanda menyetujui permintaan sang bapak ojek online. Keduanya lantas mengikuti sepeda motor bapak ojek online yang melaju lebih dulu, sementara Faya dan Citra mengekor dibelakangnya. Keduanya berjalan tidak bersampingan, Faya terlihat lebih dulu dibandingkan Citra karena Citra masih asyik dengan ponselnya, mungkin Citra ingin memberitahukan kepada bapak ojek online yang kedua mengenai lokasi tempat mereka menunggu.
Faya berjalan sambil menunduk di trotoar jalan menahan sinar matahari yang begitu terik siang itu. Meskipun begitu ia sadar betul jika dari samping trotoar tepatnya di aspal ada lelaki yang mulai mengikutinya. Lelaki itu berbaju merah, kira-kira seumuran bapak-bapak dengan dua anak, tampak sambil mengendarai sepeda motor yang sengaja ia pelankan lajunya sambil berusaha mengajak berbincang dengan Faya.
"Mau kemana Mbak?" Tanya lelaki berbaju merah tersebut mengikuti Faya berjalan.
"Mau ke mall di daerah sana Pak" Jawab Faya pelan.
"Naik apa Mbak?" Tanyanya lagi.
"Itu Pak naik ojek online" Jawab Faya memandang lelaki tersebut.
Mendengar jawaban Faya tersebut, lelaki itu mengencangkan laju motornya dan meninggalkan Faya. Lelaki itu seolah sudah menemukan jawaban yang ia cari.
"Hei! Orang mana kamu!" Teriak lelaki berbaju merah tersebut pada ojek online.
"Berani-beraninya mangkal disini!" Lanjutnya.
"Hei! Kamu Mbak sengaja ya kamu membuat saya dan tukang ojek online itu berantem!" Tanyanya marah pada Faya sambil menunju-nunjuk Faya.
Mendengar tuduhan lelaki berbaju merah tersebut yang secara spontan dilayangkan padanya membuat Faya begitu kaget dan ketakutan. Begitupun dengan Citra yang berada disampingnya ia menggerutu bingung pada Faya, kebingungan yang seolah juga menyiratkan ketakutan.
Lelaki berbaju merah yang masih duduk di sepeda motornya itu kini dihampiri oleh satu kawan laki-lakinya yang berprofesi sama sebagai tukang ojek konvensional. Lelaki berbaju merah masih belum puas memarahi Faya dan Citra karena mereka memesan ojek online di kawasan ojek konvensional.
"Jangan macam-macam kamu Mbak!" Ancam lelaki berbaju merah tersebut.
"Berapa sih sebenarnya naik ojek online! Ayoh sini saya antar!" Tambahnya yang belum puas memaki.
Cacian-cacian yang dilontarkan lelaki berbaju merah tersebut hanya bisa membuat Faya dan Citra mematung kebingungan. Keduanya saling senggol menyenggol karena tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Faya dan Citra benar-benar tidak tahu jika itu adalah kawasan ojek konvensional, disana tidak ada tulisan, spanduk atau apapun yang menunjukkan itu adalah kawasan ojek konvensional. Begitu pun sang ojek online juga tidak memberitahu  sebelumnya ketika ia akan  datang menjemput di lokasi. Faya dan Citra juga tidak menyangka jika lelaki berbaju merah tersebut akan semarah ini padanya. Pasalnya lelaki yang sejak tadi mengikutinya sambil bertanya-tanya tersebut sama sekali tidak ada tanda-tanda ia akan marah. Hal tersebut membuat Faya juga menganggap lelaki yang mengikutinya tersebut hanyalah orang yang sengaja bertanya karena melihat Faya dan Citra berjalan kaki. Faya juga tidak menaruh pikiran apapun mengenai profesi lelaki berbaju merah tersebut yang ternyata adalah tukang ojek konvensional.
"Maaf Pak, maaf Pak, saya tidak tahu" Ucap Faya dengan wajah panik..
 “Awas ya! Batalkan pesanannya! Atau saya akan ikuti kalian, awas jika kalian masih naik ojek online!" Ancam lelaki berbaju merah tersebut.
Faya dan Citra semakin bingung. Ia tidak ingin bertengkar dengan lelaki berbaju merah tersebut. Kawan lelaki berbaju merah tersebut tampak lebih bisa sabar dan hanya menawari kami agar mau diantar dengan ojek konvensional. Faya dan Citra semakin bingung. Apalagi ojek online yang dipesannya juga sudah kabur. Waktu semakin berjalan dan ia masih dirundung kebingungan. Dengan suara bergetar dan ragu Faya memutuskan untuk tidak naik ojek konvensional maupun ojek online. Faya tidak ingin naik ojek konvensional lelaki yang sedang disulut api emosi tersebut.
"Iya Pak saya batalkan, saya nanti minta antar jemput teman saya saja" Ucap Faya menahan rasa gugup di hatinya.
` Mendengar ucapan Faya tersebut kedua lelaki tersebut pergi meninggalkan Faya dan Citra masih dengan tatapan nanar lelaki berbaju merah tersebut. Melihat keduanya pergi Faya dan Citra juga tidak mau membuang waktu untuk terus berada di tempat tersebut. Keduanya memutuskan untuk berjalan kaki memburu waktu untuk bertemu artis idoalnya, meskipun dengan hati yang jengkel karena harus terlebih dulu mendengarkan makian-makian atas kesalahan yang menurutnya sama sekali tidak perlu diperdebatkan karena setiap orang punya pilihan masing-masing. Termasuk pilihan mengidolakan siapa.
Waktu rupanya masih berpihak kepada Faya. Mereka sampai di lokasi promosi film tersebut tepat satu jam sebelum acara dimulai. Mereka terlebih dahulu menuju musholla untuk menunaikkan kewajiban mereka beribadah kepada sang Tuhan, berterimakasih karena masih diberikan keselamatan atas kecerobohannya sebagai manusia.


Semangat Nichol !







Kamis, 15 Maret 2018

Qlapa.com : Rumahnya Produk Handmade Indonesia





        Di era modernisasi saat ini perkembangan di bidang teknologi semakin canggih, terutama di bidang digital. Kemajuan teknologi di bidang digital turut pula membawa dampak positif di bidang ekonomi, yaitu dengan munculnya e – commerce atau ekonomi digital. Ekonomi digital merupakan trend ekonomi baru saat ini, dimana transaksi ekonomi dilakukan dan dibuat secara online. Dengan adanya sistem ekonomi digital telah melahirkan berbagai situs jual beli online yang menawarkan berbagai jenis barang maupun jasa kepada para konsumen.

      Hadirnya berbagai situs jual beli online tentu tidak terlepas dari berbagai kebutuhan dari masyarakat maupun konsumen. Di mana dengan perkembangan zaman saat ini kebutuhan masyarakat maupun konsumen semakin beragam, tidak saja sebatas pada kebutuhan primer saja melainkan juga berbagai jenis – jenis kebutuhan yang lain, seperti contoh kecil kebutuhan yang tidak terduga adalah pada saat akan menghadiri undangan ulang tahun teman, tentu kita tidak akan datang dengan tangan kosong pasti kita mau tidak mau akan membeli sesuatu sebagai hadiah atau kado ulang tahun, tentu kita ingin memberikan sesuatu yang membuatnya senang. Selain itu dalam memilih maupun membeli sesuatu tentu kita sebagai konsumen ingin yang terbaik dan kadang – kadang bernilai ekslusif, seperti barang tersebut memiliki nilai seni tinggi, terbuat dari bahan alami atau kita ingin barang – barang tersebut dikerjakan dengan tangan oleh pengrajin.

      Untuk menemukan produk – produk yang demikian, kini di Indonesia telah hadir situs jual beli online yang menjual produk - produk handmade dari para pengrajin di seluruh Indonesia yaitu Qlapa.com. Di situs Qlapa.com pembeli dapat membeli produk handmade untuk berbagai keperluan langsung dari pembuatnya yang berasal dari seluruh Indonesia. Melalui Qlapa.com pembeli dengan mudah akan menemukan produk – produk unik buatan pengrajin dari seluruh Indonesia, mulai dari tas kulit, baju , sepatu, plerabot rumah tangga, dompet kulit,  furnitur hingga assesoris unik lainnya. Selain itu pemesanan juga bisa dilakukan secara custom dengan pengrajin yang menjual produknya sesuai selera konsumen dan pembeli juga bisa melihat profil seluruhnya dari penjual beserta katalog online yang dimiliki oleh penjual.

Tidak hanya asal menjual berbagai poduk lokal dari pengrajin Indonesia, namun Qlapa.com juga menjamin keamanan dan kenyamanan setiap transaksi yang dilakukan oleh para pembeli dengan menggunakan sistem yang diotomatisasi dan menggunakan rekening bersama, sehingga pembeli dapat bertransaksi dengan mudah tanpa takut terjadi penipuan maupun hal – hal yang tidak diinginkan.

Walaupun mengandung banyak unsur tradisional namun produk – produk yang ada di Qlapa.com selalu mengikuti arus modernisasi sehingga tidak terkesan kuno maupun ketinggalan zaman. Pembeli dapat menyesuaikan berbagai kebutuhan melalui fitur – fitur yang disediakan di Qlapa.com , mulai dari memilih jenis kelamin agar tersaring produk – produk yang dikhususkan untuk wanita atau pria atau menggunakan saringan untuk memilih produk pilihan sesuai dengan warna, harga maupun relevansi.

Selain mudah menemukan berbagai produk handmade Indonesia melalui Qlapa.com, berbelanja produk handmade Indonesia merupakan salah satu cara kita untuk melestarikan produk – produk lokal Indonesia, dengan begitu kita akan mencintai produk – produk buatan anak negeri yang tidak kalah dengan produk – produk asing buatan luar negeri, sehingga dengan dukungan kita para perajin di seluruh Indonesia dapat meningkatkan kualitas produk – produk mereka agar bisa dikenal dan bersaing di pasar global.

Sabtu, 04 November 2017

Sentra Kain Batik Madura

Mengenal Batik Paseseh


Paseseh merupakan salah satu desa di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan.
Apa sih keunikan Desa Paseseh?
Keunikan Desa Paseseh yaitu hampir semua perempuan di Desa Paseseh memiliki keahlian membatik , ibu - ibu maupun remaja wanita di Desa Paseseh menghabiskan waktu luang mereka dengan kegiatan membatik , selain untuk menambah penghasilan kegiatan membatik juga sebagai salah satu kegiatan turun - temurun dari nenek moyang mereka.
Kecintaan mereka terhadap batik sepertinya tidak perlu diragukan lagi , hampir setiap gang desa yang saya susuri terlihat ibu - ibu sedang sibuk memegang kain putih ( mori) sembari mencelupkan canting mereka ke dalam malam. Salah satu wawancara yang saya lakukan adalah dengan pemilik Galeri Batik Barokah , Ibu Marhati , beliau mengatakan dirinya sangat cinta terhadap kain batik , hingga memutuskan untuk membuka usaha sebagai agen kain batik  dan meninggalkan profesinya sebagai guru bahasa inggris ( eitzz, tapi bukan berarti pendidikan gak penting ya guys). Beliau mempekerjakan ibu - ibu rumah tangga untuk semua kain batik yang ia jual.


Mungkin batik Madura masih terasa asing ditelinga bila disandingkan dengan batik Solo atau Pekalongan , tapi sebenarnya batik Madura tidak kalah bagusnya dari batik - batik yang ada di Indonesia , dari segi motif batik Madura juga sangat bervariasi dan bersaing , bahkan satu kain batik bisa dijual dengan harga yang fantastis.


Batik - batik yang dikerjakan oleh ibu - ibu rumah tangga disini juga dipasarkan hingga ke luar negeri melalui pameran - pameran yang sering diselenggarakan.



Rabu, 01 November 2017

Resensi Novel Love Sparks In Korea



RESENSI BUKU

Judul Buku : Love Sparks in Korea
Penulis       : Asma Nadia
Penerbit   : Asma Nadia Publishing House
Tahun Terbit : Cetakan 1, Oktober 2015
Tebal : viii + 380 hlm
ISBN : 978 – 602 – 9055 – 39 - 9
Peresensi : Ika Maisaroh


Keterbatasan Ekonomi Bukan Alasan Untuk Gagal Meraih Mimpi
Segala sesuatu akan lebih mudah jika diselesaikan dengan uang. Begitulah hampir kebanyakan orang mengiyakannya. Keterbatasan ekonomi sering dianggap sebagai penyebab utama seseorang gagal dalam meraih mimpinya. Mungkin itu juga yang dirasakan Rania kecil, ketika ia dan keluarganya harus hidup di perkampungan kumuh pinggir rel kereta api.Suara gemeletak gerigi roda – roda besi yang melintasi rel sudah sangat akrab ditelinga Rania dan kedua kakaknya. Tidak jarang gempa kecil – kecilan dirasakannya ketika kereta melintas, begitu juga dengan beberapa jemuran baju yang cepat kering dan kadang hilang diterpa hembusan angin.
Rania dan kedua kakaknya hidup dalam keluarga sederhana yang serba pas-pasan, bahkan untuk memikirkan hari esok menyantap makanan apa keluarganya pun kadang merasa bingung. Di tengah kondisi keluarganya yang serba kekurangan ia pun harus menerima kenyataan pahit ketika dokter memvonisnya menderita kondisi jantung dan paru – paru yang tidak sehat. Selama sepuluh tahun Rania harus berobat jalan di rumah sakit pemerintah. Meskipun hidup serba kekurangan namun beruntung kedua orangtuanya tak pernah sedikitpun mengeluh atau menunjukkan rasa kepanikan mencari nafkah. “ Sosok tegar Papa akan mencari cara agar ketiga anaknya bisa sekolah dan bungsunya dapat terus berobat. Lelaki berdarah Aceh itu tak merasa malu jika harus mengais iba dari keluarga besar yang hidup jauh lebih mapan untuk kebutuhan anak – anak.” ( hal 57).
Novel ini mengangkat kisah menarik tentang perjuangan meraih mimpi di tengah keterbatasan kondisi ekonomi. Membaca novel ini kita disadarkan, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bisa diraih. “ Dunia ini semuanya kepunyaan Allah. Kita mungkin miskin tapi Allah Maha Kaya. Makhluknya tinggal berikhtiar dan meminta lewat doa – doa” ( hal 58).
 Selain itu novel ini juga mengajarkan betapa pentingnya peran orangtua dalam memotivasi anak – anaknya.” Orangtua susah tak berarti anak – anak harus menderita. Ketiga anaknya berhak mendapatkan atap yang lebih nyaman, suasana lapang untuk belajar, serta kesempatan mengejar impian. Kemiskinan tidak boleh menjadi alasan yang mengaburkan harapan” ( hal 60)
Dengan kondisi keluarga yang serba kekurangan Rania mungkin tidak pernah membayangkan jika ia kini bisa menjadi penulis yang dikenal banyak orang dengan novel – novelnya yang selalu menjadi best seller. Berkat kepiawaiannya menulis berbagai novel Rania pun kerap kali mendapat undangan untuk menjadi penulis tamu, seminar dan acara talkshow di berbagai negara. Dari sanalah ia mendapat julukan sebagai Jilbab Traveller. Ia menikmati hari – harinya sebagai penulis dan jilbab traveller, seorang penjelajah muslimah yang terbang ke berbagai negara untuk mentafakuri kebesaran Sang Pencipta. Setiap perjalanan yang dilakukannya semata – mata ia niatkan untuk menambah ketaqwaan dirinya terhadap Sang Pencipta, namun ternyata ia tidak hanya bisa melihat kebesaran Sang Pencipta melalui berbagai landmark yang ia kunjungi tetapi ia juga menemukan orang spesial yang berjanji menjadi pendamping setiap perjalanannya.
Dipaparkan dengan gaya bahasa yang memikat bernada santun, serta berbagai sentuhan islami membuat novel ini menarik untuk dibaca. Apalagi  tema yang diangkat dalam novel ini begitu dekat dengan realitas yang kita alami bahwa keterbatasan ekonomi keluarga seringkali dianggap sebagai penghambat terbesar dalam usaha meraih mimpi. Meski ada beberapa bagian cerita yang terasa lompat – lompat namun Asma Nadia mampu menyiasatinya dengan kalimat puitis yang indah untuk direnungi yang hampir tersebar di tiap sub bab.Selebihnya novel ini sangat menarik untuk dibaca karena di dalamnya menghadirkan berbagai pesan pembelajaran, terlebih untuk orang yang berjuang meraih mimpi agar tidak lekas putus asa.
“ Seperti Malahayati, laksamana perempuan pertama di dunia yang tidak mengenal sikap menyerah kalah, walau terluka dan berdarah” ( hal 125)









Sabtu, 28 Oktober 2017

Antisipasi Modus Penipuan dengan Etika Sosial

Saat ini banyak sekali tindakan kejahatan maupun penipuan dengan berbagai modus. Untuk memenuhi tuntutan zaman dan kebutuhan banyak pihak yang tidak bertanggung jawab rela melakukan apapun demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.Sebut saja materi berupa uang. Ada yang rela berpura - pura pincang, buta dan bahkan hingga menyewakan bayi mereka sendiri untuk menghasilkan rupiah. Hal demikian sepertinya bukan hal yang tabuh lagi , mengingat saya pernah melakukan wawancara dengan beberapa anak jalanan dan warga disekitar pelabuhan x yang notabene mereka memang mendapatkan uang dengan cara demikian. Ironis memang..
Namun kali ini yang ingin saya bagikan adalah pengalaman saya , tepatnya dua hari yang lalu 26 Oktober 2017. Ujian tengah semester baru saja selesai dilakukan , alhamdulilah ada sisa satu minggu untuk bisa pulang bertemu orangtua. Saya berangkat dari Pelabuhan Kamal Bangkalan pukul 15.00 sore hari dengan harapan akan sampai di Terminal Bungurasih tepat pada pukul 19.00 WIB, namun ternyata perkiraan itu meleset ternyata tidak terjadi keterlambatan kapal laut maupun jalanan yang macet , akhirnya bus yang saya naiki sampai di Terminal Bungurasih pukul 18.00 atau tepatnya maghrib.
Tidak seperti biasanya memang , kala itu saya memang memutuskan untuk pulang menuju Sidoarjo sendiri yang biasanya saya selalu bareng atau nebeng teman yang dari Sepanjang, Gresik atau Mojokerto. Alih - alih tidak ingin bergantung dengan orang lain saya memutuskan untuk pulang sendiri dengan membuat janji dengan adik saya agar menjemput saya di terminal , tetapi adik saya memang sudah mengatakan akan menjemput saya pukul 19.00 WIB , itu artinya saya harus menunggu satu jam terlebih dahulu , saya memutuskan untuk menunggu di Mushola yang ada di sekitar. Mushola lumayan sepi karena sholat maghrib telah selesai dilakukan. Karena perjalansn yang cukup melelahkan tanpa pikir panjang saya pun langsung mengambil posisi duduk di lantai dengan menyenderkan tubuh di tembok mushola, saya juga mengetahui disebelah saya ada lelaki seumuran alm. bapak saya , namun saya juga tidak menyangka dengan cepat lelaki itu mengajak saya berbincang - bincang , mulai dari yang awalnya perbincangan ringan hingga akhirnya ia menceritakan mengapa ia bisa sampai di Terminal dan duduk di mushola. Ia bercerita bahwa ia seorang kuli bangunan yang baru saja mengalami miss comunication dengan mandor proyeknya , ia mengaku semalam ditelepon untuk datang ke basecamp kerja ( sebut saja demikian) karena katanya ada pekerjaan , begitu sampai sana katanya sang mandor tidak ada begitu pun basecamp kerja yang tidak ada orang. Ia menceritakan hal demikian kepada saya dengan mata berkaca - kaca , ia mengaku berjalan kaki dari basecamp tempatnya tadi hingga ke terminal selama tiga jam karena tidak memiliki cukup uang untuk naik kendaraan umum ia juga bingung bagaimana caranya untuk pulang. Oh.. ya satu hal , dia sempat bertanya asal saya , sontak pertanyaan itu di awal juga saya jawab apa adanya sesuai alamat saya , entah kebetulan atau bagaimana bapak tersebut juga mengatakan berasal dari daerah yang sama dengan saya hanya saja berbeda kecamatan.
Mendengar ceritanya hati saya sebenarnya memang sudah terketuk, saya kasihan karena pada saat yang sama saya juga teringat ayah saya pula. Spontan bapak itu mengatakan dengan muka iba agar saya bisa meminjami uang agar ia bisa pulang, hati saya yang sudah terketuk lebih dulu langsung mengambil uang dari dalam tas sebesar 50.000 saya berikan. Tanpa ucapan terima kasih bapak tersebut langsung menerimanya dengan buru - buru memasukkannya ke dalam saku celananya. Saya yang belum dijemput sontak mengajukan permohonan agar bapak tsb tinggal di mushola terlebih dahulu sebelum saya dijemput oleh adik saya, karena memang saya tidak membawa uang lebih selain yang saya berikan.
Bukan bermaksud tidak ikhlas, atau mengungkit jumlah nominal uangnya , sebenarnya pengalaman ini ingin saya bagikan setelah saya menceritakannya kepada adik saya , ternyata ia juga pernah mengalami hal yang sama hanya bedanya pelakunya adalah seorang ibu - ibu.
Tidak ada yang aneh memang , saya pun juga tidak menaruh kecurigaan apapun terhadap sang bapak, semuanya berjalan apa adanya terlebih ia juga banyak bercerita tentang kehidupan keluarganya dan kehidupan masa mudanya yang delapan tahun berada di pondok pesantren , berbagai petuah juga diberikan kepada saya selama perbincangan, saya juga menyaksikan sendiri ketaatannya yang dengan sigap mendengar adzan isyak buru - buru mengambil air wudhu.
Tidak ingin berburuk sangka , namun kita juga tahu bahwa sekian lama kita hidup dengan masyarakat dengan segala aturan nilai dan norma sosialnya , saya berharap agar dugaan saya sepenuhnya salah terhadap bapak tadi. Namun etika sosial sepertinya juga berbicara lain , saya sama sekali tidak menerima ucapan terimakasih satu kali pun, berjabat tangan atau melihat bapak tadi membawa barang bawaan layaknya orang bepergian , dalam berbagai berpincangan selama menunggu adik saya juga mengamati walaupun bukan orang yang hidup zaman sekarang namun bapak tadi begitu akrab dengan istilah - istilah saat ini , seperti otw ( on the way) yang bahkan saya pun ragu mengatakannya , selain itu ia juga sepertinya sudah akrab dengan media komunikasi via wattsap , itu terlihat ketika dalam obrolannya menyuruh saya menghubungi adik saya melalui via wattsap hal ini berbanding terbalik ketika saya menanyakan apakah bapak pergi ke surabaya tidak membawa handphone , ia menjawab tidak karena keterbatasan teknologi yang ia kuasai sudah dikalahkan oleh anak-anaknya.

Pengalaman ini saya bagikan bukan untuk membatasi seseorang dalam melakukan kebaikan dengan menolong orang lain , namun semata - mata karena saya tidak ingin orang lain menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rupiah termasuk juga dengan memanfaatkan sisi kemanusiaan kita. Jikalau ini menjadi modus penipuan baru semoga kita bisa lebih pandai menyikapi, namun jika bukan maka cukuplah saya yang salah menilai.
Terimakasih semoga bermanfaat.


Minggu, 01 Oktober 2017

Rasionalisasi Rasa Kemanusiaan

Rasionalisasi Rasa Kemanusiaan
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi saat ini seakan memaksa manusia untuk selalu berfikir dan bertindak rasional . Dimana tindakan rasional adalah segala tindakan yang bersumber pada logika rasional yang mempertimbangkan untung dan rugi. Dalam bertindak secara rasional seseorang sangat meminimalisasi adanya tindakan dan perasaan irasional.
Salah satu bentuk perasaan dan tindakan irasional adalah rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan seseorang memang tidak bisa diukur karena bersifat nonrasional dan karena itu adalah suatu emosi atau perasaan yang membedakan kita sebagai manusia dengan makhluk lainnya. Menurut Simmel , hal yang nonrasional adalah elemen “kehidupan” primer dan esensial, satu aspek integral kemanusiaan kita. Di era perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat segala sesuatu yang bersifat nonrasional berusaha dirasionalkan oleh manusia. Satu contoh dari hal yang nonrasional adalah cinta (contoh lainnya adalah emosi dan iman) dan hal ini nonrasional karena diantaranya tidak praktis, berbeda dengan pengalaman intelektual, tidak memiliki nilai riil, impulsif, tidak ada satu pun aspek sosial atau kultural yang hadir di antara pecinta dengan yang dicinta dan hal ini tumbuh “ dari relung kehidupan yang sepenuhnya nonrasional” ( Simmel, dalam Arditi, 1996:96).
Dalam pengertian tertentu, rasionalisasi disini adalah bagaimana manusia menilai sesuatu hanya karena sebuah untung dan dan rugi yang bersifat materil, yang akhirnya melahirkan sejumlah efek negatif seperti sinisme dan sikap acuh. Tentu masih sangat lekat di ingatan kita peristiwa naas yang menimpa M. Azahra atau Joya, pria yang dihakimi massa dan dibakar hidup – hidup karena diduga mencuri amplifier mushola. Betapa rasa kemanusiaan kita hilang hanya karena menilai kebenaran berdasarkan sebuah benda yang harganya tidak lebih mahal dari sebuah nyawa. Miris dan ironis ketika seharusnya kesalahpahaman yang bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan tetapi harus berakhir dengan cara yang tidak manusiawi. Dan begitu ironis ketika peristiwa tersebut disaksikan oleh banyak orang tetapi tidak satu pun dari mereka yang mampu menghentikan peristiwa naas tersebut dan bahkan ada yang dengan asyik mengabadikan tragedi kemanusiaan tersebut. Dalam hal ini sinisme memainkan perannya, hingga tidak ada satu pun yang sadar akan keberadaan hukum.
          Hilangnya rasa kemanusiaan juga turut menghilangkan budaya malu yang ada di dalam sebuah masyarakat. Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu memiliki arti yang beragam, yaitu sebuah emosi , pengertian, pernyataan atau kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya sebelumnya dan kemudian ingin ditutupinya ( Wikipedia Bahasa Indonesia ). Sebagai sebuah emosi dari manusia , rasa malu menjadi sebuah benteng yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap perilaku dan tindakan seseorang. Tindakan dan perilaku dari seorang individu dapat mendatangkan konsekuensi secara sosial atas tindakan dan perilaku individu. Konsekuensi tersebut bisa berupa pujian, kritik bahkan celaan. Namun seiring dengan perkembangan peradaban manusia, perlahan budaya malu itu mulai terkikis. Sanksi sosial tidak lagi mendatangkan rasa malu, begitu apatisnya manusia sekarang hingga menghilangkan rasa kemanusiaan kita demi sebuah gaya hidup mewah dan pengakuan sosial.
Masih menghiasi layar pemberitaan di tanah air kita adalah kasus penipuan dan penggelapan uang Biro Perjalanan Umroh Anugerah Karya Wisata atau First Travel yang dilakukan oleh pasangan suami istri Andhika Surachman dan Anisa Hasibuan yang telah memakan banyak korban penipuan dengan nominal uang yang tidak sedikit. Fakta – fakta mengenai gaya hidup keduanya juga menjadi  sorotan tersendiri. Perbuatan ini tentu saja dilakukan atas kesadaran mengingkari janji terhadap mereka yang berharap dapat menunaikan ibadah umroh dan kesadaran melanggar hukum. Dengan perkembangan dunia digital orang berlomba –lomba untuk membentuk citra dirinya yang akhirnya mengikis budaya malu tersebut. Dalam perspektif konsumsi budaya seseorang melakukan konsumsi budaya itu secara sadar sebagai penanda status sosialnya. Perkembangan teknologi digital telah membuat konsumsi budaya itu secara nyata dilakukan, terutama budaya massa.
Lagi – lagi saya harus menyerang kapitalisme, tidak bisa dipungkiri, dengan adanya media sosial orang banyak memperlihatkan citra dirinya. Citra sebagai orang dengan limpahan materi dan kehidupan yang serba glamor berusaha ditunjukkan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Semua tindakan tersebut semata – mata dilakukan hanya untuk menunjukkan citra diri, selera atas produk budaya menjadi penanda status sosial seorang individu.
          Rasionalisasi telah membawa manusia terasing dari sesamanya, sikap sinisme dan acuh telah menjadi konsekuensi bagi manusia modern saat ini. Hal ini juga didukung oleh perkembangan dunia digital dimana  banyak orang berlomba – lomba menunjukkan citra dirinya melalui media sosial ,  mengabaikan sanksi sosial  dan kesadaran melanggar hukum sebagai sesuatu yang lumrah untuk dilakukan. Sudah seharusnya dan saatnya kita menjunjung tinggi hukum itu sendiri dengan mentaatinya berdasarkan kesadaran kita sebagai manusia, kesadaran melanggar hukum sejatinya menunjukkan sifat kemanusiaan kita terhadap sesama.




Sisi Lain

Hallo kawan – kawan…
Dalam tulisan kali ini saya akan membahas mengenai Hallyu Wave, apa itu Hallyu Wave? Cekidott...

Hallyu Wave  adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia. Umumnya Hallyu memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan kebudayaan Korea.

Orang yang menyukai budaya pop Korea disebut Kpopers. Mungkin kalian yang bukan Kpopers akan bertanya sebenarnya hal apa sih yang membuat para Kpopers ini begitu menyukai budaya Korea? Lalu mengapa sih Hallyu Wave ini begitu populer hingga bisa menyebar ke negara – negara lainnya, termasuk Indonesia…

Berdasarkan pengalaman yang sering anne amati sebenernya ada beberapa hal yang bisa jadi sebab kenapa budaya Korea ( Korean Pop ) ini bisa menembus pasar industry hiburan dunia, terlepas dari semua pro dan kontra yang ada inilah pendapat saya…

1.      Ketampanan Wajah Para Pelaku Industri Hiburan Korea.
Putih, tinggi, berwajah mulus, tubuh yang proporsional. Itulah kesan pertama ketika anne pertama nonton drama Korea. Diakui atau enggak gan tapi mereka memang sangat detail sekali dalam menggarap sebuah drama maupun video music ( MV), mulai dari pemilihan pemain hingga setiap adegan yang akan diperagakan, gak heran jika sering terdengar kabar para aktris maupun actor           Korea banyak melakukan operasi plastik, karena mereka memang dituntut untuk tampil sempurna.

2.     Multitalenta
Dihimpun dari beberapa sumber katanya setiap agensi di Korea memang mengharuskan setiap aktor maupun artisnya untuk menguasai seluruh talenta yang ada baik itu bernyanyi dan berakting. Makannya gak heran kalau banyak boyband – boyband Korea yang kadang bermain dalam sebuah drama Korea. Untuk bisa menjadi publik figure di negeri ginseng Korea tidak bisa dilakukan secara instan, mereka harus menjalani karantina di agensi yang mereka ikuti dengan waktu yang tidak singkat,, sampai mereka dianggap mampu dan layak mereka baru akan diorbitkan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan di Indonesia, banyak mereka yang jadi artis secara instan dan  karena keterbatasan talenta yang mereka miliki kadang dalam beberapa waktu saja mereka akan hilang ditelan pasar karena tidak mampu berinovasi.

3.     Packaging yang Sempurna
Dunia hiburan Korea kalau menurut anne emang pandai  banget mengemas para actor maupun artisnya. Lihat saja para girlband dan boyband yang  menggelar konser di Indonesia, mulai dari rambut, make up hingga pakaian mereka serasikan hingga membentuk sebuah kekompakan yang dimana seluruh mata melihat akan takjub. Lihat saja dalam sebuah video klip yang mereka produksi, begitu detailnya mereka menyesuaikan gaya rambut, kostum, adegan dance hingga lighting video, mereka seperti enggan bekerja secara asal – asalan. Makannya tidak heran jika banyak dari video musik ( MV ) mereka yang memiliki banyak viewers  dan menjadi yang paling banyak ditonton.

4.      Pandai Melakukan Pemasaran
Mungkin buat kalian yang gak suka ma Korea – Korean akan heran bagaimana mungkin sebuah film dan drama mampu mempengaruhi sebuah budaya yang ada di suatu negara hingga bisa mengubah haluan para generasi muda dalam melakukan konsumsi budaya. Satu hal yang jadi poin penting pengamatan anne gan yaitu dalam  industri hiburan Korea mereka sangat kreatif dan pandai sekali melakukan pemasaran terhadap budaya – budaya mereka. Satu contoh kecil adalah ketika mereka menggelar konser di Indonesia, mereka pasti akan memperkenalkan diri mereka menggunakan bahasa Indonesia. Contoh kedua adalah mereka yang tidak segan menggunakan produk – produk lokal dari negara lain, sebut saja produk Indonesia, sandal jepit dan kemeja batik pernah dipakai salah satu member boyband Korea. Secara kasap mata itu memang merupakan tindakan dari sang artis untuk menyenangkan fansnya yang berasal dari negara lain. Namun secara kritis sebenarnya hal tersebut adalah salah satu strategi pemasaran yang harus mereka lakukan agar mereka bisa mendapat respon positif dari fans – fans di luar negara mereka.

5.     Kreatif dan Inovatif
Diakui atau tidak memang mereka  kreatif dan inovatif. Lihat saja alur cerita dari setiap drama dan film yang mereka produksi, hampir tidak ada yang tidak menarik, semua yang menonton pasti memiliki kesan tersendiri terhadap drama dan film yang mereka produksi, baik itu alur cerita maupun kisah para pemainnya. Mereka tidak hanya bisa menyesuaikan keinginan pasar tetapi mereka juga pandai mengemas sebuah cerita. Bila di Indonesia umumnya sebuah sinetron atau film lebih banyak mengangkat tema percintaan tidak dengan mereka yang bisa berinovasi membuat sebuah cerita yang lahir dari sejarah dan atau cerita – cerita yang lahir dari konflik keseharian seorang individu maupun kelompok. Sebut saja drama Descendats of the Sun yang tidak hanya mengisahkan kisah percintaan semata, tapi dengan kreatifnya mereka bisa mengambil konflik yang datang dari profesi seorang dokter dan tentara.


Bila secara sederhana Karl Marx mengistilahkan kerja semata – mata bukan soal uang tapi soal eksistensi , dan begitu pula saya akan mengatakan produksi budaya bukan semata – mata soal pendapatan tapi soal pengaruh budaya tersebut.


Okay gan..itulah hasil ulasan sekaligus pengamatan sederhana yang anne lakukan selama berteman dengan  mereka yang mengaku Kpopers, terlepas dari adanya pro dan kontra terhadap tulisan anne, silahkan berikan kritik dan saran secara beretika..terimakasih.

One Fine Day

.........(akan sangat sedih untuk sekarang) Gadis itu masih sibuk menarikan jarinya di atas layar ponselnya. Hari menunjukkan pukul delapan...