Senin, 02 April 2018

Pola Asuh Orangtua dalam Pendidikan di Era Kekinian


“ Makan dulu nanti main game lagi”
“ Belajar dulu jangan game terus nanti mama banting hp nya!"


      Itulah kalimat – kalimat yang sering kali saya dengar ketika saya berkunjung ke rumah keponakan saya, ibunya pasti berkata demikian kepada keponakan saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ( SD ). Apa lagi penyebabnya jika bukan gadget. Ya gadget memang benda yang sepele akan tetapi pengaruhnya sangat luar biasa bagi kita saat ini, terlebih bagi anak yang masih dibawah umur. Hadirnya konten – konten menarik dan lucu menjadi salah satu faktor yang membuat anak – anak tidak bisa lepas dari yang namanya gadget, terlebih konten games yang membuat anak – anak bahkan rela tidak makan karena sudah kecanduan bermain games.Saat ini gadget menjadi masalah yang cukup serius di era pendidikan saat ini. Hadirnya gadget juga seperti pisau bermata dua, di satu sisi anak kita mungkin tidak akan lagi gagap teknologi ( gaptek ) akan tetapi apabila sudah kecanduan bermain gadget pasti akan lupa segalanya, termasuk lupa belajar. Memang tidak bisa dipungkiri di era kekinian saat ini kehadiran gadget memang tidak bisa dilepaskan dari genggaman kita, bahkan dalam dunia pendidikan pun saat ini banyak wali kelas yang mulai menggunakan aplikasi komunikasi grup whatsapp untuk berkomunikasi atau berdiskusi masalah tugas maupun perkembangan anak didik di sekolah  dengan para orangtua siswa melalui grup chatting. Tentu hal ini menjadi sesuatu yang positif karena guru dan orangtua terlibat aktif dalam proses pendidikan seorang siswa atau anak.

       Lalu bagaimana agar anak tidak kecanduan gadget?

1. Orangtua perlu melakukan pendampingan

Melarang membuka internet bukanlah solusi tepat. Dampingi saat ia membuka – buka internet dan jelaskan mana konten negatif dan mana konten yang positif.

2. Letakkan komputer di ruang umum

Meletakkan komputer baik PC maupun laptop di ruang tamu misalnya dapat memberikan kesan terbuka. Cara ini akan mampu mengontrol sekaligus melihat aktivitas anak selama membuka internet.

3. Tentukan waktu online bersama dan ada pembatasan

Sediakan waktu khusus untuk membuka internet kecuali dalam keadaan darurat atau keperluan mendesak. Pembatasan waktu untuk online juga untuk mendisiplinkan anak.

4. Perhatikan tingkah laku tak wajar dan konsultasikan

Jika tingkah lakunya sudah diluar batas kewajaran dan orangtua sudah merasa tidak mampu lagi maka persoalan ini harus dikonsultasikan kepada ahlinya. Membiarkan anak terus bermain gadget hanya akan menambahnya semakin kecanduan.

5. Tekankan pentingnya bersosialisasi kehidupan nyata

Ajak remaja berbicara dan katakanlah bahwa main game, chatting dan melakukan komunikasi di dunia maya ( online ) memang sangat mengasyikkan. Namun tekankan dan jelaskan bahwa berinteraksi tentu jauh lebih asyik jika langsung di dunia nyata.

6. Sosialisasikan cara memakai gadget dengan tepat

Melarang bukanlah cara yang bijak melainkan harus disertai dengan alasan dan pejelasan yang tepat dan dimengerti. Berikan penjelasan cara bijak menggunakan gadget selain untuk hiburan juga untuk mencari informasi dan ilmu pengetahuan.

7. Pemeriksaan mata secara rutin

Anak yang sering terpapar dengan layar gadget tentu sangat tidak baik karena akan mengganggu kesehatan matanya. Untuk itu orangtua perlu memeriksakan matanya agar diketahui sudah sejauh mana tingkat minjus atau plusnya.

Pendidikan di era kekinian dengan  hadirnya teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat juga tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga itu sendiri. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan pendidikan anak. Pola asuh orangtua sangat berpengaruh terhadap kepribadian maupun perkembangan seorang anak, baik itu secara psikologis maupun dalam hal pendidikan. Di era pendidikan kekinian saat ini para orangtua harus lebih berperan aktif dalam menciptakan pola asuh yang sesuai untuk anak, karena pendidikan sejatinya dimulai dari dalam rumah keluarga itu sendiri.

Lalu pola asuh seperti apa yang harus diterapkan keluarga itu sendiri?

1. Keteladanan

Di antara bentuk pendidikan yang paling utama adalah dengan teladan nyata. Mendidik anak akan efektif apabila ada contoh teladan yang nyata dari kedua orang tuanya. Sulit bagi anak untuk berperilaku jujur apabila orangtuanya mencontohkan kebohongan. Sulit bagi anak untuk berhenti merokok apabila menyaksikan orangtuanya selalu merokok.Demikian pula sulit bagi anak untuk rajin ibadah apabila orang tuanya tidak melaksanakan ibadah.

2. Pembiasaan

Pembiasaan yang dilakukan sejak kecil akan mampu menjadi pondasi kebaikan bagi anak hingga mereka dewasa. Untuk itu, biasakan anak – anak dengan perasaan diawasi dan dijaga oleh Allah/Tuhan agar mereka selalu berada dalam kebaikan dimanapun mereka berada. Sangat penting bagi anak untuk ditananmkan kesadaran akan adanya pengawasan dan penjagaan Allah/Tuhan pada diri manusia.

3. Mendongeng

Salah satu model pendidikan anak yang efektif adalah dengan kisah keteladanan. Jika anak – anak sudah mulai nalar, ajak mereka berdiskusi tentang kisah- kisah keteladanan tersebut agar mereka mengerti makna dan hikmah yang bisa diambil darinya.

4. Memanfaatkan Momentum

Diantara model mendidik anak adalah denagn memanfaatkan peristiwa atau kejadian yang baru saja dialami atau yang ada di sekitarnya. Bukan hanya peristiwa atau kejadian yang dialami sendiri oleh anak namun juga kejadian yang terjadi di sekitar lingkungan kehidupannya. Sebagai contoh sederhana, ketika anak kehilangan mainan, menjadi kesempatan bagi orangtua untuk mengajarkan sikap ikhlas, hati – hati sekaligus mengajarkan doa kehilangan. Ketika menyaksiakan ada kecelakaan lalu lintas, kesempatan bagi orangtua untuk menanamkan kesadaran kehati-hatian dalam berkendara.

5. Reward dan Punishment

Anak memerlukan pengakuan dan pujian atas kebaikan dan prestasi yang dilakukannya. Untuk itu orangtua haru sseimbang dalam memberiakn reward dan punishment kepada anak, karena keduanya diperlukan dalam mendidik dengan kadar yang tepat. Jangan hanya bisa menghukum kesalahan anak, namun juga harus bisa mengapresiasi kebaikan anak.
Reward dan punishment memiliki fungsi penting dalam mengajari anak berperilaku positif. Fungsi pertama ialah pendidikan. Pujian dan hukum bertujuan untuk memberikan pendidikan kebaikan baagi anak, yaitu mendidik agar nak – anak selalu terkondisi dalam kebaikan. Fungsi kedua adalah menajdi motivasi bagi anak untuk melakukan dan mengulangi perilaku positif.

Maka dari itu, pendidikan di era kekinian tidak bisa hanya disandarkan pada guru dan sekolah semata,  keluarga juga harus berperan aktif dalam memantau perkembanagan pendidikan anak. Dalam hal ini keluarga harus menyadari perannya sebagai agen sosialisasi pertama seorang anak, iklim yang dibangun keluarga di dalam rumah sangat menentukan perkembangan seorang anak itu sendiri. Apalagi di era saat ini dengan hadirnya gadget orangtua harus lebih aktif menjadi teman, sahabat dan kontrol bagi anak. Untuk itu pola asuh yang tepat sangat penting untuk diterapkan, karena anak merupakan cerminan dari pola asuh keluarganya yaitu orangtua.

#sahabatkeluarga

Referensi :
laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id.
https: img.okeinfo.net content 2017 07 25 481 1743517 bahaya-main

Kamis, 15 Maret 2018

Qlapa.com : Rumahnya Produk Handmade Indonesia





        Di era modernisasi saat ini perkembangan di bidang teknologi semakin canggih, terutama di bidang digital. Kemajuan teknologi di bidang digital turut pula membawa dampak positif di bidang ekonomi, yaitu dengan munculnya e – commerce atau ekonomi digital. Ekonomi digital merupakan trend ekonomi baru saat ini, dimana transaksi ekonomi dilakukan dan dibuat secara online. Dengan adanya sistem ekonomi digital telah melahirkan berbagai situs jual beli online yang menawarkan berbagai jenis barang maupun jasa kepada para konsumen.

      Hadirnya berbagai situs jual beli online tentu tidak terlepas dari berbagai kebutuhan dari masyarakat maupun konsumen. Di mana dengan perkembangan zaman saat ini kebutuhan masyarakat maupun konsumen semakin beragam, tidak saja sebatas pada kebutuhan primer saja melainkan juga berbagai jenis – jenis kebutuhan yang lain, seperti contoh kecil kebutuhan yang tidak terduga adalah pada saat akan menghadiri undangan ulang tahun teman, tentu kita tidak akan datang dengan tangan kosong pasti kita mau tidak mau akan membeli sesuatu sebagai hadiah atau kado ulang tahun, tentu kita ingin memberikan sesuatu yang membuatnya senang. Selain itu dalam memilih maupun membeli sesuatu tentu kita sebagai konsumen ingin yang terbaik dan kadang – kadang bernilai ekslusif, seperti barang tersebut memiliki nilai seni tinggi, terbuat dari bahan alami atau kita ingin barang – barang tersebut dikerjakan dengan tangan oleh pengrajin.

      Untuk menemukan produk – produk yang demikian, kini di Indonesia telah hadir situs jual beli online yang menjual produk - produk handmade dari para pengrajin di seluruh Indonesia yaitu Qlapa.com. Di situs Qlapa.com pembeli dapat membeli produk handmade untuk berbagai keperluan langsung dari pembuatnya yang berasal dari seluruh Indonesia. Melalui Qlapa.com pembeli dengan mudah akan menemukan produk – produk unik buatan pengrajin dari seluruh Indonesia, mulai dari tas kulit, baju , sepatu, plerabot rumah tangga, dompet kulit,  furnitur hingga assesoris unik lainnya. Selain itu pemesanan juga bisa dilakukan secara custom dengan pengrajin yang menjual produknya sesuai selera konsumen dan pembeli juga bisa melihat profil seluruhnya dari penjual beserta katalog online yang dimiliki oleh penjual.

Tidak hanya asal menjual berbagai poduk lokal dari pengrajin Indonesia, namun Qlapa.com juga menjamin keamanan dan kenyamanan setiap transaksi yang dilakukan oleh para pembeli dengan menggunakan sistem yang diotomatisasi dan menggunakan rekening bersama, sehingga pembeli dapat bertransaksi dengan mudah tanpa takut terjadi penipuan maupun hal – hal yang tidak diinginkan.

Walaupun mengandung banyak unsur tradisional namun produk – produk yang ada di Qlapa.com selalu mengikuti arus modernisasi sehingga tidak terkesan kuno maupun ketinggalan zaman. Pembeli dapat menyesuaikan berbagai kebutuhan melalui fitur – fitur yang disediakan di Qlapa.com , mulai dari memilih jenis kelamin agar tersaring produk – produk yang dikhususkan untuk wanita atau pria atau menggunakan saringan untuk memilih produk pilihan sesuai dengan warna, harga maupun relevansi.

Selain mudah menemukan berbagai produk handmade Indonesia melalui Qlapa.com, berbelanja produk handmade Indonesia merupakan salah satu cara kita untuk melestarikan produk – produk lokal Indonesia, dengan begitu kita akan mencintai produk – produk buatan anak negeri yang tidak kalah dengan produk – produk asing buatan luar negeri, sehingga dengan dukungan kita para perajin di seluruh Indonesia dapat meningkatkan kualitas produk – produk mereka agar bisa dikenal dan bersaing di pasar global.

Sabtu, 04 November 2017

Sentra Kain Batik Madura

Mengenal Batik Paseseh


Paseseh merupakan salah satu desa di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan.
Apa sih keunikan Desa Paseseh?
Keunikan Desa Paseseh yaitu hampir semua perempuan di Desa Paseseh memiliki keahlian membatik , ibu - ibu maupun remaja wanita di Desa Paseseh menghabiskan waktu luang mereka dengan kegiatan membatik , selain untuk menambah penghasilan kegiatan membatik juga sebagai salah satu kegiatan turun - temurun dari nenek moyang mereka.
Kecintaan mereka terhadap batik sepertinya tidak perlu diragukan lagi , hampir setiap gang desa yang saya susuri terlihat ibu - ibu sedang sibuk memegang kain putih ( mori) sembari mencelupkan canting mereka ke dalam malam. Salah satu wawancara yang saya lakukan adalah dengan pemilik Galeri Batik Barokah , Ibu Marhati , beliau mengatakan dirinya sangat cinta terhadap kain batik , hingga memutuskan untuk membuka usaha sebagai agen kain batik  dan meninggalkan profesinya sebagai guru bahasa inggris ( eitzz, tapi bukan berarti pendidikan gak penting ya guys). Beliau mempekerjakan ibu - ibu rumah tangga untuk semua kain batik yang ia jual.


Mungkin batik Madura masih terasa asing ditelinga bila disandingkan dengan batik Solo atau Pekalongan , tapi sebenarnya batik Madura tidak kalah bagusnya dari batik - batik yang ada di Indonesia , dari segi motif batik Madura juga sangat bervariasi dan bersaing , bahkan satu kain batik bisa dijual dengan harga yang fantastis.


Batik - batik yang dikerjakan oleh ibu - ibu rumah tangga disini juga dipasarkan hingga ke luar negeri melalui pameran - pameran yang sering diselenggarakan.



Rabu, 01 November 2017

Resensi Novel Love Sparks In Korea



RESENSI BUKU

Judul Buku : Love Sparks in Korea
Penulis       : Asma Nadia
Penerbit   : Asma Nadia Publishing House
Tahun Terbit : Cetakan 1, Oktober 2015
Tebal : viii + 380 hlm
ISBN : 978 – 602 – 9055 – 39 - 9
Peresensi : Ika Maisaroh


Keterbatasan Ekonomi Bukan Alasan Untuk Gagal Meraih Mimpi
Segala sesuatu akan lebih mudah jika diselesaikan dengan uang. Begitulah hampir kebanyakan orang mengiyakannya. Keterbatasan ekonomi sering dianggap sebagai penyebab utama seseorang gagal dalam meraih mimpinya. Mungkin itu juga yang dirasakan Rania kecil, ketika ia dan keluarganya harus hidup di perkampungan kumuh pinggir rel kereta api.Suara gemeletak gerigi roda – roda besi yang melintasi rel sudah sangat akrab ditelinga Rania dan kedua kakaknya. Tidak jarang gempa kecil – kecilan dirasakannya ketika kereta melintas, begitu juga dengan beberapa jemuran baju yang cepat kering dan kadang hilang diterpa hembusan angin.
Rania dan kedua kakaknya hidup dalam keluarga sederhana yang serba pas-pasan, bahkan untuk memikirkan hari esok menyantap makanan apa keluarganya pun kadang merasa bingung. Di tengah kondisi keluarganya yang serba kekurangan ia pun harus menerima kenyataan pahit ketika dokter memvonisnya menderita kondisi jantung dan paru – paru yang tidak sehat. Selama sepuluh tahun Rania harus berobat jalan di rumah sakit pemerintah. Meskipun hidup serba kekurangan namun beruntung kedua orangtuanya tak pernah sedikitpun mengeluh atau menunjukkan rasa kepanikan mencari nafkah. “ Sosok tegar Papa akan mencari cara agar ketiga anaknya bisa sekolah dan bungsunya dapat terus berobat. Lelaki berdarah Aceh itu tak merasa malu jika harus mengais iba dari keluarga besar yang hidup jauh lebih mapan untuk kebutuhan anak – anak.” ( hal 57).
Novel ini mengangkat kisah menarik tentang perjuangan meraih mimpi di tengah keterbatasan kondisi ekonomi. Membaca novel ini kita disadarkan, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bisa diraih. “ Dunia ini semuanya kepunyaan Allah. Kita mungkin miskin tapi Allah Maha Kaya. Makhluknya tinggal berikhtiar dan meminta lewat doa – doa” ( hal 58).
 Selain itu novel ini juga mengajarkan betapa pentingnya peran orangtua dalam memotivasi anak – anaknya.” Orangtua susah tak berarti anak – anak harus menderita. Ketiga anaknya berhak mendapatkan atap yang lebih nyaman, suasana lapang untuk belajar, serta kesempatan mengejar impian. Kemiskinan tidak boleh menjadi alasan yang mengaburkan harapan” ( hal 60)
Dengan kondisi keluarga yang serba kekurangan Rania mungkin tidak pernah membayangkan jika ia kini bisa menjadi penulis yang dikenal banyak orang dengan novel – novelnya yang selalu menjadi best seller. Berkat kepiawaiannya menulis berbagai novel Rania pun kerap kali mendapat undangan untuk menjadi penulis tamu, seminar dan acara talkshow di berbagai negara. Dari sanalah ia mendapat julukan sebagai Jilbab Traveller. Ia menikmati hari – harinya sebagai penulis dan jilbab traveller, seorang penjelajah muslimah yang terbang ke berbagai negara untuk mentafakuri kebesaran Sang Pencipta. Setiap perjalanan yang dilakukannya semata – mata ia niatkan untuk menambah ketaqwaan dirinya terhadap Sang Pencipta, namun ternyata ia tidak hanya bisa melihat kebesaran Sang Pencipta melalui berbagai landmark yang ia kunjungi tetapi ia juga menemukan orang spesial yang berjanji menjadi pendamping setiap perjalanannya.
Dipaparkan dengan gaya bahasa yang memikat bernada santun, serta berbagai sentuhan islami membuat novel ini menarik untuk dibaca. Apalagi  tema yang diangkat dalam novel ini begitu dekat dengan realitas yang kita alami bahwa keterbatasan ekonomi keluarga seringkali dianggap sebagai penghambat terbesar dalam usaha meraih mimpi. Meski ada beberapa bagian cerita yang terasa lompat – lompat namun Asma Nadia mampu menyiasatinya dengan kalimat puitis yang indah untuk direnungi yang hampir tersebar di tiap sub bab.Selebihnya novel ini sangat menarik untuk dibaca karena di dalamnya menghadirkan berbagai pesan pembelajaran, terlebih untuk orang yang berjuang meraih mimpi agar tidak lekas putus asa.
“ Seperti Malahayati, laksamana perempuan pertama di dunia yang tidak mengenal sikap menyerah kalah, walau terluka dan berdarah” ( hal 125)









Sabtu, 28 Oktober 2017

Antisipasi Modus Penipuan dengan Etika Sosial

Saat ini banyak sekali tindakan kejahatan maupun penipuan dengan berbagai modus. Untuk memenuhi tuntutan zaman dan kebutuhan banyak pihak yang tidak bertanggung jawab rela melakukan apapun demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.Sebut saja materi berupa uang. Ada yang rela berpura - pura pincang, buta dan bahkan hingga menyewakan bayi mereka sendiri untuk menghasilkan rupiah. Hal demikian sepertinya bukan hal yang tabuh lagi , mengingat saya pernah melakukan wawancara dengan beberapa anak jalanan dan warga disekitar pelabuhan x yang notabene mereka memang mendapatkan uang dengan cara demikian. Ironis memang..
Namun kali ini yang ingin saya bagikan adalah pengalaman saya , tepatnya dua hari yang lalu 26 Oktober 2017. Ujian tengah semester baru saja selesai dilakukan , alhamdulilah ada sisa satu minggu untuk bisa pulang bertemu orangtua. Saya berangkat dari Pelabuhan Kamal Bangkalan pukul 15.00 sore hari dengan harapan akan sampai di Terminal Bungurasih tepat pada pukul 19.00 WIB, namun ternyata perkiraan itu meleset ternyata tidak terjadi keterlambatan kapal laut maupun jalanan yang macet , akhirnya bus yang saya naiki sampai di Terminal Bungurasih pukul 18.00 atau tepatnya maghrib.
Tidak seperti biasanya memang , kala itu saya memang memutuskan untuk pulang menuju Sidoarjo sendiri yang biasanya saya selalu bareng atau nebeng teman yang dari Sepanjang, Gresik atau Mojokerto. Alih - alih tidak ingin bergantung dengan orang lain saya memutuskan untuk pulang sendiri dengan membuat janji dengan adik saya agar menjemput saya di terminal , tetapi adik saya memang sudah mengatakan akan menjemput saya pukul 19.00 WIB , itu artinya saya harus menunggu satu jam terlebih dahulu , saya memutuskan untuk menunggu di Mushola yang ada di sekitar. Mushola lumayan sepi karena sholat maghrib telah selesai dilakukan. Karena perjalansn yang cukup melelahkan tanpa pikir panjang saya pun langsung mengambil posisi duduk di lantai dengan menyenderkan tubuh di tembok mushola, saya juga mengetahui disebelah saya ada lelaki seumuran alm. bapak saya , namun saya juga tidak menyangka dengan cepat lelaki itu mengajak saya berbincang - bincang , mulai dari yang awalnya perbincangan ringan hingga akhirnya ia menceritakan mengapa ia bisa sampai di Terminal dan duduk di mushola. Ia bercerita bahwa ia seorang kuli bangunan yang baru saja mengalami miss comunication dengan mandor proyeknya , ia mengaku semalam ditelepon untuk datang ke basecamp kerja ( sebut saja demikian) karena katanya ada pekerjaan , begitu sampai sana katanya sang mandor tidak ada begitu pun basecamp kerja yang tidak ada orang. Ia menceritakan hal demikian kepada saya dengan mata berkaca - kaca , ia mengaku berjalan kaki dari basecamp tempatnya tadi hingga ke terminal selama tiga jam karena tidak memiliki cukup uang untuk naik kendaraan umum ia juga bingung bagaimana caranya untuk pulang. Oh.. ya satu hal , dia sempat bertanya asal saya , sontak pertanyaan itu di awal juga saya jawab apa adanya sesuai alamat saya , entah kebetulan atau bagaimana bapak tersebut juga mengatakan berasal dari daerah yang sama dengan saya hanya saja berbeda kecamatan.
Mendengar ceritanya hati saya sebenarnya memang sudah terketuk, saya kasihan karena pada saat yang sama saya juga teringat ayah saya pula. Spontan bapak itu mengatakan dengan muka iba agar saya bisa meminjami uang agar ia bisa pulang, hati saya yang sudah terketuk lebih dulu langsung mengambil uang dari dalam tas sebesar 50.000 saya berikan. Tanpa ucapan terima kasih bapak tersebut langsung menerimanya dengan buru - buru memasukkannya ke dalam saku celananya. Saya yang belum dijemput sontak mengajukan permohonan agar bapak tsb tinggal di mushola terlebih dahulu sebelum saya dijemput oleh adik saya, karena memang saya tidak membawa uang lebih selain yang saya berikan.
Bukan bermaksud tidak ikhlas, atau mengungkit jumlah nominal uangnya , sebenarnya pengalaman ini ingin saya bagikan setelah saya menceritakannya kepada adik saya , ternyata ia juga pernah mengalami hal yang sama hanya bedanya pelakunya adalah seorang ibu - ibu.
Tidak ada yang aneh memang , saya pun juga tidak menaruh kecurigaan apapun terhadap sang bapak, semuanya berjalan apa adanya terlebih ia juga banyak bercerita tentang kehidupan keluarganya dan kehidupan masa mudanya yang delapan tahun berada di pondok pesantren , berbagai petuah juga diberikan kepada saya selama perbincangan, saya juga menyaksikan sendiri ketaatannya yang dengan sigap mendengar adzan isyak buru - buru mengambil air wudhu.
Tidak ingin berburuk sangka , namun kita juga tahu bahwa sekian lama kita hidup dengan masyarakat dengan segala aturan nilai dan norma sosialnya , saya berharap agar dugaan saya sepenuhnya salah terhadap bapak tadi. Namun etika sosial sepertinya juga berbicara lain , saya sama sekali tidak menerima ucapan terimakasih satu kali pun, berjabat tangan atau melihat bapak tadi membawa barang bawaan layaknya orang bepergian , dalam berbagai berpincangan selama menunggu adik saya juga mengamati walaupun bukan orang yang hidup zaman sekarang namun bapak tadi begitu akrab dengan istilah - istilah saat ini , seperti otw ( on the way) yang bahkan saya pun ragu mengatakannya , selain itu ia juga sepertinya sudah akrab dengan media komunikasi via wattsap , itu terlihat ketika dalam obrolannya menyuruh saya menghubungi adik saya melalui via wattsap hal ini berbanding terbalik ketika saya menanyakan apakah bapak pergi ke surabaya tidak membawa handphone , ia menjawab tidak karena keterbatasan teknologi yang ia kuasai sudah dikalahkan oleh anak-anaknya.

Pengalaman ini saya bagikan bukan untuk membatasi seseorang dalam melakukan kebaikan dengan menolong orang lain , namun semata - mata karena saya tidak ingin orang lain menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rupiah termasuk juga dengan memanfaatkan sisi kemanusiaan kita. Jikalau ini menjadi modus penipuan baru semoga kita bisa lebih pandai menyikapi, namun jika bukan maka cukuplah saya yang salah menilai.
Terimakasih semoga bermanfaat.


Minggu, 01 Oktober 2017

Rasionalisasi Rasa Kemanusiaan

Rasionalisasi Rasa Kemanusiaan
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi saat ini seakan memaksa manusia untuk selalu berfikir dan bertindak rasional . Dimana tindakan rasional adalah segala tindakan yang bersumber pada logika rasional yang mempertimbangkan untung dan rugi. Dalam bertindak secara rasional seseorang sangat meminimalisasi adanya tindakan dan perasaan irasional.
Salah satu bentuk perasaan dan tindakan irasional adalah rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan seseorang memang tidak bisa diukur karena bersifat nonrasional dan karena itu adalah suatu emosi atau perasaan yang membedakan kita sebagai manusia dengan makhluk lainnya. Menurut Simmel , hal yang nonrasional adalah elemen “kehidupan” primer dan esensial, satu aspek integral kemanusiaan kita. Di era perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat segala sesuatu yang bersifat nonrasional berusaha dirasionalkan oleh manusia. Satu contoh dari hal yang nonrasional adalah cinta (contoh lainnya adalah emosi dan iman) dan hal ini nonrasional karena diantaranya tidak praktis, berbeda dengan pengalaman intelektual, tidak memiliki nilai riil, impulsif, tidak ada satu pun aspek sosial atau kultural yang hadir di antara pecinta dengan yang dicinta dan hal ini tumbuh “ dari relung kehidupan yang sepenuhnya nonrasional” ( Simmel, dalam Arditi, 1996:96).
Dalam pengertian tertentu, rasionalisasi disini adalah bagaimana manusia menilai sesuatu hanya karena sebuah untung dan dan rugi yang bersifat materil, yang akhirnya melahirkan sejumlah efek negatif seperti sinisme dan sikap acuh. Tentu masih sangat lekat di ingatan kita peristiwa naas yang menimpa M. Azahra atau Joya, pria yang dihakimi massa dan dibakar hidup – hidup karena diduga mencuri amplifier mushola. Betapa rasa kemanusiaan kita hilang hanya karena menilai kebenaran berdasarkan sebuah benda yang harganya tidak lebih mahal dari sebuah nyawa. Miris dan ironis ketika seharusnya kesalahpahaman yang bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan tetapi harus berakhir dengan cara yang tidak manusiawi. Dan begitu ironis ketika peristiwa tersebut disaksikan oleh banyak orang tetapi tidak satu pun dari mereka yang mampu menghentikan peristiwa naas tersebut dan bahkan ada yang dengan asyik mengabadikan tragedi kemanusiaan tersebut. Dalam hal ini sinisme memainkan perannya, hingga tidak ada satu pun yang sadar akan keberadaan hukum.
          Hilangnya rasa kemanusiaan juga turut menghilangkan budaya malu yang ada di dalam sebuah masyarakat. Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu memiliki arti yang beragam, yaitu sebuah emosi , pengertian, pernyataan atau kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya sebelumnya dan kemudian ingin ditutupinya ( Wikipedia Bahasa Indonesia ). Sebagai sebuah emosi dari manusia , rasa malu menjadi sebuah benteng yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap perilaku dan tindakan seseorang. Tindakan dan perilaku dari seorang individu dapat mendatangkan konsekuensi secara sosial atas tindakan dan perilaku individu. Konsekuensi tersebut bisa berupa pujian, kritik bahkan celaan. Namun seiring dengan perkembangan peradaban manusia, perlahan budaya malu itu mulai terkikis. Sanksi sosial tidak lagi mendatangkan rasa malu, begitu apatisnya manusia sekarang hingga menghilangkan rasa kemanusiaan kita demi sebuah gaya hidup mewah dan pengakuan sosial.
Masih menghiasi layar pemberitaan di tanah air kita adalah kasus penipuan dan penggelapan uang Biro Perjalanan Umroh Anugerah Karya Wisata atau First Travel yang dilakukan oleh pasangan suami istri Andhika Surachman dan Anisa Hasibuan yang telah memakan banyak korban penipuan dengan nominal uang yang tidak sedikit. Fakta – fakta mengenai gaya hidup keduanya juga menjadi  sorotan tersendiri. Perbuatan ini tentu saja dilakukan atas kesadaran mengingkari janji terhadap mereka yang berharap dapat menunaikan ibadah umroh dan kesadaran melanggar hukum. Dengan perkembangan dunia digital orang berlomba –lomba untuk membentuk citra dirinya yang akhirnya mengikis budaya malu tersebut. Dalam perspektif konsumsi budaya seseorang melakukan konsumsi budaya itu secara sadar sebagai penanda status sosialnya. Perkembangan teknologi digital telah membuat konsumsi budaya itu secara nyata dilakukan, terutama budaya massa.
Lagi – lagi saya harus menyerang kapitalisme, tidak bisa dipungkiri, dengan adanya media sosial orang banyak memperlihatkan citra dirinya. Citra sebagai orang dengan limpahan materi dan kehidupan yang serba glamor berusaha ditunjukkan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Semua tindakan tersebut semata – mata dilakukan hanya untuk menunjukkan citra diri, selera atas produk budaya menjadi penanda status sosial seorang individu.
          Rasionalisasi telah membawa manusia terasing dari sesamanya, sikap sinisme dan acuh telah menjadi konsekuensi bagi manusia modern saat ini. Hal ini juga didukung oleh perkembangan dunia digital dimana  banyak orang berlomba – lomba menunjukkan citra dirinya melalui media sosial ,  mengabaikan sanksi sosial  dan kesadaran melanggar hukum sebagai sesuatu yang lumrah untuk dilakukan. Sudah seharusnya dan saatnya kita menjunjung tinggi hukum itu sendiri dengan mentaatinya berdasarkan kesadaran kita sebagai manusia, kesadaran melanggar hukum sejatinya menunjukkan sifat kemanusiaan kita terhadap sesama.




Sisi Lain

Hallo kawan – kawan…
Dalam tulisan kali ini saya akan membahas mengenai Hallyu Wave, apa itu Hallyu Wave? Cekidott...

Hallyu Wave  adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia. Umumnya Hallyu memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan kebudayaan Korea.

Orang yang menyukai budaya pop Korea disebut Kpopers. Mungkin kalian yang bukan Kpopers akan bertanya sebenarnya hal apa sih yang membuat para Kpopers ini begitu menyukai budaya Korea? Lalu mengapa sih Hallyu Wave ini begitu populer hingga bisa menyebar ke negara – negara lainnya, termasuk Indonesia…

Berdasarkan pengalaman yang sering anne amati sebenernya ada beberapa hal yang bisa jadi sebab kenapa budaya Korea ( Korean Pop ) ini bisa menembus pasar industry hiburan dunia, terlepas dari semua pro dan kontra yang ada inilah pendapat saya…

1.      Ketampanan Wajah Para Pelaku Industri Hiburan Korea.
Putih, tinggi, berwajah mulus, tubuh yang proporsional. Itulah kesan pertama ketika anne pertama nonton drama Korea. Diakui atau enggak gan tapi mereka memang sangat detail sekali dalam menggarap sebuah drama maupun video music ( MV), mulai dari pemilihan pemain hingga setiap adegan yang akan diperagakan, gak heran jika sering terdengar kabar para aktris maupun actor           Korea banyak melakukan operasi plastik, karena mereka memang dituntut untuk tampil sempurna.

2.     Multitalenta
Dihimpun dari beberapa sumber katanya setiap agensi di Korea memang mengharuskan setiap aktor maupun artisnya untuk menguasai seluruh talenta yang ada baik itu bernyanyi dan berakting. Makannya gak heran kalau banyak boyband – boyband Korea yang kadang bermain dalam sebuah drama Korea. Untuk bisa menjadi publik figure di negeri ginseng Korea tidak bisa dilakukan secara instan, mereka harus menjalani karantina di agensi yang mereka ikuti dengan waktu yang tidak singkat,, sampai mereka dianggap mampu dan layak mereka baru akan diorbitkan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan di Indonesia, banyak mereka yang jadi artis secara instan dan  karena keterbatasan talenta yang mereka miliki kadang dalam beberapa waktu saja mereka akan hilang ditelan pasar karena tidak mampu berinovasi.

3.     Packaging yang Sempurna
Dunia hiburan Korea kalau menurut anne emang pandai  banget mengemas para actor maupun artisnya. Lihat saja para girlband dan boyband yang  menggelar konser di Indonesia, mulai dari rambut, make up hingga pakaian mereka serasikan hingga membentuk sebuah kekompakan yang dimana seluruh mata melihat akan takjub. Lihat saja dalam sebuah video klip yang mereka produksi, begitu detailnya mereka menyesuaikan gaya rambut, kostum, adegan dance hingga lighting video, mereka seperti enggan bekerja secara asal – asalan. Makannya tidak heran jika banyak dari video musik ( MV ) mereka yang memiliki banyak viewers  dan menjadi yang paling banyak ditonton.

4.      Pandai Melakukan Pemasaran
Mungkin buat kalian yang gak suka ma Korea – Korean akan heran bagaimana mungkin sebuah film dan drama mampu mempengaruhi sebuah budaya yang ada di suatu negara hingga bisa mengubah haluan para generasi muda dalam melakukan konsumsi budaya. Satu hal yang jadi poin penting pengamatan anne gan yaitu dalam  industri hiburan Korea mereka sangat kreatif dan pandai sekali melakukan pemasaran terhadap budaya – budaya mereka. Satu contoh kecil adalah ketika mereka menggelar konser di Indonesia, mereka pasti akan memperkenalkan diri mereka menggunakan bahasa Indonesia. Contoh kedua adalah mereka yang tidak segan menggunakan produk – produk lokal dari negara lain, sebut saja produk Indonesia, sandal jepit dan kemeja batik pernah dipakai salah satu member boyband Korea. Secara kasap mata itu memang merupakan tindakan dari sang artis untuk menyenangkan fansnya yang berasal dari negara lain. Namun secara kritis sebenarnya hal tersebut adalah salah satu strategi pemasaran yang harus mereka lakukan agar mereka bisa mendapat respon positif dari fans – fans di luar negara mereka.

5.     Kreatif dan Inovatif
Diakui atau tidak memang mereka  kreatif dan inovatif. Lihat saja alur cerita dari setiap drama dan film yang mereka produksi, hampir tidak ada yang tidak menarik, semua yang menonton pasti memiliki kesan tersendiri terhadap drama dan film yang mereka produksi, baik itu alur cerita maupun kisah para pemainnya. Mereka tidak hanya bisa menyesuaikan keinginan pasar tetapi mereka juga pandai mengemas sebuah cerita. Bila di Indonesia umumnya sebuah sinetron atau film lebih banyak mengangkat tema percintaan tidak dengan mereka yang bisa berinovasi membuat sebuah cerita yang lahir dari sejarah dan atau cerita – cerita yang lahir dari konflik keseharian seorang individu maupun kelompok. Sebut saja drama Descendats of the Sun yang tidak hanya mengisahkan kisah percintaan semata, tapi dengan kreatifnya mereka bisa mengambil konflik yang datang dari profesi seorang dokter dan tentara.


Bila secara sederhana Karl Marx mengistilahkan kerja semata – mata bukan soal uang tapi soal eksistensi , dan begitu pula saya akan mengatakan produksi budaya bukan semata – mata soal pendapatan tapi soal pengaruh budaya tersebut.


Okay gan..itulah hasil ulasan sekaligus pengamatan sederhana yang anne lakukan selama berteman dengan  mereka yang mengaku Kpopers, terlepas dari adanya pro dan kontra terhadap tulisan anne, silahkan berikan kritik dan saran secara beretika..terimakasih.

Pola Asuh Orangtua dalam Pendidikan di Era Kekinian

“ Makan dulu nanti main game lagi” “ Belajar dulu jangan game terus nanti mama banting hp nya!"       Itulah kalimat – kalimat...