Sabtu, 12 Agustus 2017

Rekomendasi Tontonan Keluarga

Review Sinetron Indonesia


Hallo guys, buat para pecinta sinetron atau tayangan televisi Indonesia...hehe, kali ini anne mau kasih review salah satu sinetron yang ada di Indonesia, yaitu sinetron " Dunia Terbalik" sinetron yang tayang di stasiun televisi swasta RCTI ini sukses ditonton oleh ribuan orang setiap harinya..hehe. Berikut adalah review anne mengenai sinetron ini..

Genre        : Drama, Komedi dan Religi.
Format      : Sinetron
Pembuat    : MNC Pictures
Sutradara  : Iip . S. Hanan
Produser    : Mudakir Rifai
Pemain       :   - Agus Kuncoro
                        - Indra Birowo
                        - Sutan Simatupang
                        - Bambang Candra Bayu
                        - Yafi Tesa
                        - Mieke Amalia
                        - Idrus Madani
                        - Guntara Hidayat
                        - Ryana Dea
                        - Felicya Angelista
                        - Raihan Khan
                        - Faby Marcelia
                        - Diaz Ardiawan
                        - Marsha Risdasari
                       - Syahnaz Sadiqah
                       - Anjani Dina
                       - Rosnita Putri
                       - Deliana Siahaan

     Di tengah banyaknya sinetron Indonesia yang menurut anne kurang mendidik dan banyak menampilkan adegan kekerasan , namun sinetron Dunia Terbalik hadir dengan cerita yang menarik, mengisahkan beberapa orang suami yang ditinggalkan istrinya bekerja di luar negeri, sehingga mereka harus mendidik anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasanya dikerjakan seorang istri, sementara istrinya bekerja mencari nafkah. Cerita dalam sinetron ini menceritakan masyarakat Jonggol, Bogor, tepatnya di desa Ciraos.

        Dimulai dari kisah Akum, Aceng, Idoy dan musuh bebuyutan Aceng yaitu Dadang. Dadang merupakan salah satu suami yang beruntung karena gaji istrinya adalah yang paling tinggi diantara para istri TKW lainnya, sehingga kerap berlaku sombong dan suka pamer. Sementara Aceng adalah musuh bebuyutan Dadang yang kerap kali saling ejek, hal ini karena Aceng adalah tipe lelaki yang suka menggoda para wanita. Idoy atau Idoy Mlehoy panggilan Aceng padanya adalah orang yang dikenal pelupa dan telat mikir. Lain halnya dengan Akum yang memiliki sifat paling sabar diantara ketiganya. Dalam kesehariannya diceritakan keempatnya selalu bercengkrama bersama di rumah Akum setelah mengantar anak - anak mereka pergi ke sekolah. Aceng kerap kali melupakan tugas rumah tangganya sehingga kerap kali memancing emosi mertuanya yaitu Mak Suha. Dalam bercengkrama tersebut Dadang seringkali pamer akan banyaknya emas yang ia miliki, semenatara Idoy sering memancing emosi ketiganya karena dalam setiap obrolan mereka ia selalu bertanya pada Akum dan kadang sulit mengerti obrolan ketiganya.

          Sinetron " Dunia Terbalik" tidak hanya menceritakan kisah Akum, Aceng, Idoy dan Dadang saja, namun kehidupan orang - orang di Desa Ciraos juga diceritakan dengan berbagai konflik keseharian yang menarik, selain itu nilai lebih dari sinetron ini yaitu masalah keseharian yang dianggap tabuh dapat diceritakan dan diperankan dengan baik oleh para pemainnya, seperti salah satu episodenya yang menceritakan seorang Dedeh yang mengantarkan makanan untuk mertuanya yang dititipkan kepada hansip desa, hal itu lalu memicu kemarahan dan rasa tersinggung dari mertuanya karena merasa tidak dihargai sebagai orangtua. Serta dalam sinetron ini selain mengandung kisah komedi, juga mempunyai pesan - pesan religius yang disampaikan, seperti pesan moral mengenai larangan jual beli gharar, yaitu jual beli yang mengandung ketidakjelasan, pertaruhan dan perjudian.

          Dalam sinetron tersebut juga diceritakan perihal keseharian anak - anak Akum, Aceng , Idoy dan dadang yang kompak menjadi teman, yaitu Febri, Deby, Jenifer dan Edward yang sedikit dibumbui nuansa percintaan ala anak - anak. 
             
           Terlepas dari semua kekurangan dan kelebihan yang ada dalam sinetron tersebut, menurut saya sinetron " Dunia Terbalik " layak untuk ditonton oleh semua kalangan, termasuk anak - anak karena di dalamnya terdapat pesan moral yang mendidik.

Okee guys..cukup sekain ulasan tentang sinetron Dunia Terbalik... 
Cukup dunianya aja guys yaa yang kebalik kitanya jangan...hehhee...




Jumat, 11 Agustus 2017

Suara yang Tertahan

Mahasiswa Kok gak Tau!
Mahasiswa Kok gak Bisa!

Pernyataan seperti itu kerap kami dengar, entah itu sebagai bentuk penghargaan atas strata pendidikan kami yang jauh lebih tinggi atau justru penghinaan atas keterbatasan pengetahuan kami. Terlepas dari kedua maksud tersebut sesungguhnya kami adalah manusia biasa yang masih harus banyak belajar, kami kuliah bukan hanya untuk mendapatkan status atau gelar sebagai mahasiswa, tapi lebih daripada itu kami ingin belajar dan mendapatkan ilmu karena kami menyadari pengetahuan kami yang masih terbatas.
  
Menyandang status sebagai mahasiswa bukanlah hal yang mudah, banyak tuntutan yang harus kami terima. Mulai dari tuntutan pengetahuan, pekerjaan ketika kami lulus kelak dan tuntutan sosial lainnya.
Salah satu bentuk tuntutan sosial yang harus kami hadapi yaitu tuntutan pengetahuan, sebagai mahasiswa kami dianggap adalah orang yang paling tahu segalanya, ketika mereka bertanya kami harus mempunyai jawaban, dan ketika mereka membutuhkan kami dituntut harus bisa. Berbagai cemooh akan kami terima jika kedua hal tersebut tidak bisa kami penuhi.

Belum lama ini saya mendapat satu curhatan dari salah seorang teman,yang notabene dia adalah mahasiswa  salah  satu Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Dia bekerja di sebuah depot martabak manis untuk mengisi liburan semester , dari tempat kerja tersebut biasanya banyak orang yang memesan martabak manis disertai dengan berbagai ucapan, seperti ucapan ulang tahun dan berbagai ucapan lainnya. Pada suatu waktu saat menuliskan ucapan " Anniversary" menggunakan salah satu bahan kue, ia melakukan kesalahan dengan menuliskan huruf "r" sebanyak dua kali , sehingga menjadi " Anniversarry"yang menurut saya itu manusiawi, mungkin karena terburu - buru atau sebenarnya ia tahu akan tetapi ia enggan menghapus karena akan merusak tampilan dari martabak atau bisa jadi ia memang benar - benar tidak tahu. Bukan bermaksud membela, ini adalah realita yang sering saya temui pula dan kerap menjadi beban tersendiri bagi kami. Atas kesalahan tersebut ia mendapatkan berbagai celaan dan omelan dari rekan - rekan kerjanya, yang mana memang rekan - rekannya tersebut bukanlah mahasiswa. Bukan karena celaan atau omelan yang saya sesalkan, akan  tetapi isi dari celaan tersebut yang kerap kali menyangkut pautkan dengan status kami sebagai mahasiswa, seolah menganggap kami ini adalah manusia yang tidak boleh melakukan kesalahan.

Saya sepenuhnya menyadari konsekuensi dan tuntutan sosial dari status seorang mahasiswa, ketika kami lulus kelak ketika kami tidak segera mendapatkan pekerjaan kami pun akan menerima sanksi sosial, baik itu celaan maupun kritik, padahal apabila kita mau membuka mata antara lulusan mahasiswa yang ada dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tidaklah sebanding.
Tetapi juga perlu dipahami dan disadari bahwa kondisi pendidikan di Indonesia tidak sepenuhnya merata, bahkan ada di usianya yang sudah menginjak dewasa tetapi belum bisa membaca, ada berbagai jenis lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, yang notabene ada yang  swasta, negeri dan juga Internasional. Tetapi saya tidak ingin membahas mengenai ketiganya. Namun yang pasti tidak dapat dipungkiri jika ketiganya bertumpu pada kemampuan ekonomi yang kita miliki.

Maka lulusan dari ketiganya juga menjadi pembeda tersendiri di dalam masyarakat. Namun untuk kami yang bersungguh - sungguh ingin menuntut ilmu itu tidak menjadi masalah, karena dimana pun tempatnya kami hanya ingin mendapatkan pembelajaran dan ilmu,  yang kami sesalkan adalah konsekuensi sosial dari masyarakat yang harus kami terima. 

Dan karena ketimpangan ekonomi di Indonesia yang cukup tinggi maka tidak semua anak juga bisa mengakses pendidikan yang layak, terkadang mereka juga memiliki keinginan yang sama akan tetapi mereka juga terpaksa harus menyesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga. Kalaupun mereka kuliah itu hanya karena gratis dan beasiswa karena mereka juga ingin merubah kondisi keluarga, sebenarnya mereka juga masih belajar..apakah masih pantas mereka dicela atas ketidaktahuan mereka?

Terlepas dari semua ulasan tersebut, lantas bukan maksud kami ingin bersembunyi dibalik keterbatasan yang kami miliki, sesungguhnya justru kami harus belajar mengejar ketertinggalan kami. Namun ada baiknya jika semua elemen sosial ikut mendukung kami, status sebagai mahasiswa juga bukan status yang melulu kami banggakan, saya juga menyesalkan ketika banyak dari sekeliling kami yang menganggap kami terlalu memaksakan diri dan menyakiti orangtua kami dengan memilih kuliah dibandingkan harus bekerja membantu orangtua. Namun pada dasarnya ketika kami memutuskan hal tersebut juga bukan pilihan yang mudah bagi kami.

Yahh..terlepas dari semuanya, kita sebagai makhluk sosial harus senantiasa menyadari bahwa kita hidup tidak hanya dengan satu kepala, tetapi dengan banyak - banyak  kepala yang di dalamnya tersimpan berbagai macam pikiran serta pandangan. Maka yang bijak adalah yang mampu bertoleransi atas semua pandangan dan pemikiran.




Rabu, 09 Agustus 2017

Mungkinkah Kita tengah Sakit?

Murahnya Nyawa

Liputan6.com, Jakarta - Polisi menetapkan dua tersangka kasus pengeroyokan dan pembakaran M Alzahra atau Joya. Pria 30 tahun itu dihakimi massa lantaran diduga mencur amplifier di Mushola Al Hidayah, Babelan, Kabupaten Bekasi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, dua tersangka masing- masing berinisial NMH atau NA dan SH atau SU. Keduanya sempat diperiksa sebagai saksi sebelum akhirnya ditetapkan menjadi tersangka.


Joya tewas mengenaskan di Pasar Muara, Bekasi, setelah dihakimi massa pada Selasa 1 Agustus 2017. Kepergian Joya menghadap Sang Pencipta secara mengenaskan menimbulkan rasa simpati masyarakat terhadap keluarga korban. Mereka berduyun - duyun datang ke rumah duka di Kampung Kavling Jati, RT 04 RW 05, Nomor 141, Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara.Joya meninggalkan istri yang tengah hamil enam bulan serta putra sulung bernama Alif Saputra. Alif yang berusia empat tahun itu kerap menanyakan keberadaan sang ayah yang biasa mengajaknya sholat dan mengaji di mushala sederhana dekat dari rumah kontrakan mereka.
Istri Joya, Jubaidah, meminta kepada penegak hukum agar para pelaku pengeroyokan dan pembakaran yang menewaskan Joya diproses secara adil.


Sedih, Miris atau Ironis ketika mendengar peristiwa tersebut?
Tentu ketiga rasa tersebut menghampiri kita ketika mendengar peristiwa naas tersebut, sedih ketika seorang anak dan bayi yang belum lahir ke dunia harus kehilangan seorang ayah. Begitu miris ketika seharusnya kesalahpahaman yang bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan tetapi harus berakhir dengan cara yang tidak manusiawi. Dan begitu ironis ketika  peristiwa tersebut disaksikan oleh banyak orang tetapi tidak satu pun dari mereka yang mampu menghentikan peristiwa naas tersebut, bahkan dengan santainya justru ada yang asyik mengabadikan tragedi kemanusiaan tersebut.

Bagaimana dengan Sosiologi?
Dari sudut pandang sosiologi ada istilah yaitu Patologi Sosial, yaitu ilmu tentang gejala - gejala sosial yang dianggap sakit. Disebabkan oleh faktor - faktor sosial. Berasal dari Phatos ( Yunani), yaitu penderitaan, penyakit , logos yang berarti ilmu.
Secara definisi Menurut Kartini Kartono yaitu Patologi sosial adalah semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal.

Apakah kita tengah sakit?
Dari definisi tersebut apabila kita kaitkan dengan peristiwa di atas maka sebenarnya dapat dikatakan terdapat gejala - gejala sosial yang  dianggap sakit, salah satu bentuk gejala patologi sosial yaitu memudarnya nilai - nilai kekeluargaan dalam suatu komunitas, masalah kesalahpahaman yang tejadi pada peristiwa pengeroyokan dan pembakaran tersebut seharusnya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan, pelaku atau orang yang mengalami patologi sosial akan  melakukan kontak fisik seperti memukul, menendang, mendorong dan sebagainya dalam tindakannya, pelaku patologi sosial kadang melakukannya karena tradisi, balas dendam atau merasa paling kuat dan berkuasa.

Dalam peristiwa tersebut juga terjadi peristiwa ketidaksadaran akan hukum, memang tidak dapat dipungkiri jika dalam suatu kerumunan massa tidak dapat dibedakan mana yang sadar akan hukum dan mana yang tidak sadar hukum, ketika semua berbaur menjadi satu maka keduanya tidak dapat dipilah - pilah.


Semoga peristiwa tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita semua dan kita menjadi orang -orang yang sadar akan adanya hukum, negara hukum kok main hakim sendiri..hehehee


























Selasa, 25 Juli 2017

Inspirasi muda Tsamara Amany

Yang Muda yang Bejiwa Politik


Politik! 

Apa yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar kata tersebut? licik? kotor? jahat? penuh tipu muslihat? ..yahh itulah beragam ungkapan ketika mendengar kata tersebut, tapi tidak untuk gadis cantik ini, Tsamara Amany, pernah denger namanya?  mungkin ini masih terlalu asing ditelinga kalian bila dibandingkan dengan nama Awkarin... hehehe...

Belakangan ini namanya menjadi perbincangan setelah dirinya terlibat tweet war dengan Fahri Hamzah ( Ketua DPR ). Tapi sebenarnya siapa sih Tsamara ini, anne nulis ini karena anne termasuk salah satu orang yang ngidolain dia. Bukan tanpa alasan anne ngidolain dia karena menurut anne Tsamara ini adalah salah satu generasi muda yang menginspirasi, terlebih dia adalah generasi milineal yang mampu mengubah cara berpikir kita tentang dunia politik. Mungkin sebagian dari kita enggan berurusan dengan dunia politik karena menganggap politik itu licik, politik itu jahat, penuh tipu dan sebagainya. Tapi Tsamara ingin membuktikan dengan ia masuk ke dunia politik atau partai politik ia akan bisa berbuat lebih banyak untuk orang lain. Selain karena itu sebagai generasi muda dia juga bisa dijadikan contoh bahwa di usia kita yang masih produktif ini seharusnya kita harus bisa menjadi penggerak untuk kaum muda yang lain untuk sama - sama peka terhadap segala persoalan sosial politik di negeri kita sendiri, jangan hanya jadi penonton atau asyik piknik dan komentar di sosial media.

Nah..berikut adalah fakta - fakta mengenai Tsamara Amany..

Sumber :brilio.net

1. Tsamara adalah Mahasiswi Universitas Paramadina.
 Masih semester 6 teman - teman, dia mengambil Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Paramadina.
2. Masih muda tapi sudah jadi pengurus partai baru.
Saat ini ia telah menjadi Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia ( PSI ) Bidang eksternal.
3.Pernah magang di Balai Kota dan mendukung penuh Basuki Tjahya Purnama.
4. Aktivis
Ia menjadi co-founder gerakan Perempuan Politik yang diinisiasi sejak April 2016 lalu.Selain itu, ia juga menjadi saksi dalam sidang uji materi persyaratan calon independen pada Pilkada yang diajukan oleh Gerakan Nasional Calon Independen pada Mahkamah Konstitusi. Pada 2015 lalu, ia juga aktif dalam Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) di kampusnya.
5. Gemar Menulis
Sudah beberapa kali Tsamara Amany membuat heboh jagat internet dengan tulisan-tulisannya. Beberapa tulisannya di media online menjadi viral, seperti saat ia menuliskan kegelisahannya terhadap sosok Anies Baswedan. Begitu juga tulisannya tentang sesat pikir Fahri hamzah yang viral beberapa hari lalu.Belum lama ini ia juga meluncurkan buku berjudul 'Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-Isu Politik Kekinian'.
6. Bercita - cita ingin menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Nah..itulah fakta - fakta mengenai Tsamara Amany, semoga bisa menjadi inspirasi kawula muda semua...

seng penting saiki eksis

Hilangnya Budaya Malu

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi banyak pula melunturkan budaya - budaya yang ada di sebuah masyarakat. Salah satunya adalah budaya malu. Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu memiliki arti yang beragam, yaitu sebuah emosi, pengertian, pernyataan, atau kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya sebelumnya, dan kemudian ingin ditutupinya ( Wikipedia Bahasa Indonesia).

Sebagai sebuah emosi dari manusia , rasa malu menjadi sebuah benteng yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap perilaku dan tindakan seseorang. Tindakan dan perilaku dari seorang individu dapat mendatangkan konsekuensi pada diri manusia, salah satunya yaitu konsekuensi secara sosial atas tindakan dan perilaku individu. Konsekuensi tersebut berupa sanksi sosial yang akan diterima individu atas tindakan dan perilakunya. Sanksi sosial tersebut bisa berupa pujian, kritik bahkan celaan.
Namun seiring dengan perkembangan peradaban manusia, perlahan budaya malu itu mulai terkikis. Sanksi sosial tidak lagi mendatangkan rasa malu, begitu apatisnya manusia sekarang.

Seperti sebuah contoh datang dari pengalaman saya, ada yang rela meminjam uang hanya untuk membeli pakaian - pakaian dengan merk ternama, begitu juga ada yang merasa malu bila harus mengatakan tidak memiliki uang, alhasil meminjam uang hanya untuk jalan - jalan dengan teman.
Sudah hilangkah budaya malu?

Dengan perkembangan dunia digital orang berlomba - lomba untuk membentuk citra dirinya yang akhirnya mengikis budaya malu tersebut. Dalam perspektif konsumsi budaya seseorang melakukan konsumsi budaya itu secara sadar sebagai penanda status sosialnya. Perkembangan teknologi digital telah membuat konsumsi budaya itu secara nyata dilakukan, terutama budaya massa.
Lagi - lagi saya harus menyerang kapitalisme, tidak bisa dipungkiri lagi dengan adanya media sosial orang banyak memperlihatkan citra dirinya. Misalnya , citra sebagai orang kaya, yang tiap pergi makan di restoran harus difoto dan disebarluaskan di media sosial ( hehehe..pada ngaku gak?) , citra sebagai anak kekinian yang selalu pergi jalan - jalan atau piknik.

Semua tindakan tersebut semata - mata dilakukan hanya untuk menunjukkan citra diri, selera atas produk budaya menjadi penanda status sosial seorang individu.




Di tunggu komentarnya yaaa....

Minggu, 23 Juli 2017

Let's Think?

Pacaran! Trend atau Kebutuhan?

Hallo...guys? Gimana ini kabarnya? masih pada jomblo gak? xixixi..
Di tulisan kali ini anne mau ngebahas soal pacaran, tapi disini anne gak mau kasih ulasan terlalu berat buat kita semua mikir..hehehe...selain itu karena anne juga gak bisa mikir berat..hahahha..

Apa sih pacaran itu?
Pasti semua punya jawabannya masing - masing...
Nah..kalau menurut Wikipedia Bahasa Indonesia sendiri sih pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan.

Terus bagaimana dengan pacaran sekarang? Sudahkah dalam pacaran yang kalian lakukan memenuhi definisi tersebut? atau pacaran supaya gak dibilang jomblo..xixixi..atau supaya gak dibilang kuper? hehehe.
Yaah...tanya pada diri masing - masing..

Yaa sebenarnya kalau menurut anne sendiri cinta , mencintai dan dicintai itu memang sebuah fitrah yang ada pada diri manusia ( ciyee..ciyee...). Mencintai, sebagai manusia  tentu kita pernah mengagumi, mengidolakan atau bahkan menyukai dan itu memang sesuatu yang lumrah terjadi apalagi ketika sudah memasuki masa pubertas.
Dicintai, setiap orang pasti akan merasa senang jika kita diperhatikan,kita diistimewakan dan apalah itu...hehehe , kita aja kadang sebagai anak kalau gak diperhatiin sama orangtua merasa sebel, itu menunjukkan bahwa artinya kita sebagai manusia juga butuh dicintai.

Eiitzzz...Tapi??? Masalahnya adalah ketika rasa mencintai dan dicintai itu kita cari dan bahkan kita jadikan sebagai gaya hidup. Gimana menurut kalian?
Anne nulis ini karena lihat fenomena di media sosial belakangan ini, terutama dari facebook. Dan anne juga yakin itu juga hampir sama di jenis media sosial lainnya. Sering banget ketika buka beranda sambil anne lakukan pengamatan , kadang juga sama temen juga ( kritis bersama Titis..hehehe ) hampir semua status di facebook semua isinya pasti menggalaukan, menggelisahkan, merindukan dan bahkan mencari seorang lawan jenis, buat apa? buat dijadiin pacar. Lebih mirisnya adalah ketika anak - anak SD dan SMP udah mulai pacaran, sehingga kadang penampilan mereka lebih dewasa dari usianya.
Dan seolah - olah ada makna yang tersirat kalau jadi jomblo itu sebagai status yang sangat memalukan. Dan rasanya kalau udah majang foto sama pacar itu bangga bangett gitu...( hayoo ngaku..hehehe?).Akhirnya, yang terjadi adalah anak muda sekarang berlomba - lomba untuk memiliki seorang pacar, mindset atau pola pikir  seperti itu mungkin tidak lepas dari adanya pengaruh media sosial dan juga sinetron di Indonesia. Sinetron di Indonesia bisa dibilang semuanya berkekuatan cinta.

Ini menurut anne menjadi sesuatu yang memilukan, ketika di usia mereka yang masih produktif yang seharusnya mereka berlomba - lomba untuk mengejar prestasi tapi justru mereka berlomba - lomba untuk mencari seorang pacar, yang anne juga yakin mereka sendiri pun sebenarnya juga belum tahu apa tujuan mereka pacaran.

Jomblo sebagai status yang memalukan?
Ada yang berpikir seperti itu? hehehe..
Tapi ada yang bilang hidup ini adalah bertarung mempertahankan prinsip hidup. Dan apakah pacaran masuk prinsip hidup kalian? hmmm..hehehhe...


Di tunggu komennya sama si Mbok..hahaha...

Sabtu, 22 Juli 2017

Keterasingan dari Dunia Sosial

                                      Saat Dunia Bayangan Dipertanyakan?
Oleh : Ika Maisaroh

Chester Bennington mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Vokalis Linkin Park itu ditemukan tak bernyawa Kamis (20/7/2017), waktu setempat di kediamannya di Palos Verdes Estates, California, Amerika Serikat. Kepergian Chester rupanya membuat rekannya di Linkin Park, Mike Shinoda sangat terkejut.(Liputan6.com)

Namun sepertinya bukan hanya Mike Shinoda yang terkejut,berita kematian Chester yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri juga mengejutkan semua penggemar Linkin Park di seluruh dunia.

Tapi saya tidak akan membahas mengenai Chester Bennington lebih lanjut.Well, semoga keluarga yang ditinggalkan bisa tabah dan semoga kejadian ini tidak ditiru oleh siapapun..Amiin.
Tapi kenapa sih harus Bunuh Diri?
Yaa..mungkin sebagian orang akan lebih banyak berbicara mengenai alasan. Masalah hidup ( Ekonomi? Keluarga? Percintaan? )
Namun, lebih daripada itu di era sekarang ini yang katanya era digital , era media sosial dan bahkan dengan media sosial kita bisa mempunyai banyak teman dan bahkan fans, seharusnya bunuh diri itu tidak lagi terjadi. Nyatanya mereka lebih memilih mengakhiri hidup dengan cara yang legal menurut mereka, mereka juga memilih bungkam atas apa yang sebenarnya mereka rasakan. 
Teman, fans, popularitas tidak bisa menjadi jaminan atas segala permasalahan yang mereka hadapi. Bukan itu yang mereka butuhkan ( menurut saya) tetapi kehadiran orang - orang yang mereka percaya untuk tempat berbagi mereka dan untuk memberi dukungan moril atas apa yang mereka hadapi.

Dalam teori bunuh dirinya " Suicide" Emile Durkheim membagi jenis bunuh diri berdasarkan alasannya, salah satunya yaitu Bunuh Diri Egoistik, bunuh diri egoistik terjadi ketika individu memiliki tingkat integrasi sosial yang rendah di dalam masyarakat. Masyarakat disini bisa jadi adalah kelompok - kelompok sosial yang melingkupi individu, bisa jadi keluarga, teman sepermainan atau kelompok - kelompok lainnya. Individu dalam jenis bunuh diri egoisme biasanya cenderung tertutup dan enggan terbuka dengan orang lain sehingga mereka akan memikirkan dan mengusahakan kebutuhannya sendiri tanpa memperhatikan kebutuhan maupun bantuan dari orang lain ataupun masyarakat.

Nah, dari jenis bunuh diri egoisme tersebut individu akan mengalami keterasingan dalam masyarakat, atau dalam dunia sosialnya.
Berbicara mengenai keterasingan dalam dunia sosila saat ini menurut saya banyak banget dialami oleh generasi milenial kita. Setiap hari mereka hanya bergelut dengan smartphone dengan berbagai aplikasinya. Ketika seseorang memiliki masalah pun mereka lebih suka menuliskannya di media sosial bahkan ada yang rela nangis - nangis di foto di upload di media sosial agar semua orang tahu jika dia punya masalah...hayoo ngaku..hehehe?. dibandingkan dia harus bercerita dengan keluarga, sahabat atau teman dekat.  
Teknologi yang kita ciptakan sendiri justru menjadi sumber keterasingan kita dari dunia sosial kita yang sesungguhnya. Ngerasa gak sih?

Yang lebih bikin miris itu sekarang adalah ketika kita peduli kita dibilang kepo ( knowing every particular object).  Nah..jargon - jargon seperti inilah yang sebenarnya justru membuat jarak kemanusiaan kita berkurang. Hello...? kita makhluk sosial gan...apa udah pada lupa? Hehehe...






One Fine Day

.........(akan sangat sedih untuk sekarang) Gadis itu masih sibuk menarikan jarinya di atas layar ponselnya. Hari menunjukkan pukul delapan...