Senin, 02 April 2018

Pola Asuh Orangtua dalam Pendidikan di Era Kekinian


“ Makan dulu nanti main game lagi”
“ Belajar dulu jangan game terus nanti mama banting hp nya!"


      Itulah kalimat – kalimat yang sering kali saya dengar ketika saya berkunjung ke rumah keponakan saya, ibunya pasti berkata demikian kepada keponakan saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ( SD ). Apa lagi penyebabnya jika bukan gadget. Ya gadget memang benda yang sepele akan tetapi pengaruhnya sangat luar biasa bagi kita saat ini, terlebih bagi anak yang masih dibawah umur. Hadirnya konten – konten menarik dan lucu menjadi salah satu faktor yang membuat anak – anak tidak bisa lepas dari yang namanya gadget, terlebih konten games yang membuat anak – anak bahkan rela tidak makan karena sudah kecanduan bermain games.Saat ini gadget menjadi masalah yang cukup serius di era pendidikan saat ini. Hadirnya gadget juga seperti pisau bermata dua, di satu sisi anak kita mungkin tidak akan lagi gagap teknologi ( gaptek ) akan tetapi apabila sudah kecanduan bermain gadget pasti akan lupa segalanya, termasuk lupa belajar. Memang tidak bisa dipungkiri di era kekinian saat ini kehadiran gadget memang tidak bisa dilepaskan dari genggaman kita, bahkan dalam dunia pendidikan pun saat ini banyak wali kelas yang mulai menggunakan aplikasi komunikasi grup whatsapp untuk berkomunikasi atau berdiskusi masalah tugas maupun perkembangan anak didik di sekolah  dengan para orangtua siswa melalui grup chatting. Tentu hal ini menjadi sesuatu yang positif karena guru dan orangtua terlibat aktif dalam proses pendidikan seorang siswa atau anak.

       Lalu bagaimana agar anak tidak kecanduan gadget?

1. Orangtua perlu melakukan pendampingan

Melarang membuka internet bukanlah solusi tepat. Dampingi saat ia membuka – buka internet dan jelaskan mana konten negatif dan mana konten yang positif.

2. Letakkan komputer di ruang umum

Meletakkan komputer baik PC maupun laptop di ruang tamu misalnya dapat memberikan kesan terbuka. Cara ini akan mampu mengontrol sekaligus melihat aktivitas anak selama membuka internet.

3. Tentukan waktu online bersama dan ada pembatasan

Sediakan waktu khusus untuk membuka internet kecuali dalam keadaan darurat atau keperluan mendesak. Pembatasan waktu untuk online juga untuk mendisiplinkan anak.

4. Perhatikan tingkah laku tak wajar dan konsultasikan

Jika tingkah lakunya sudah diluar batas kewajaran dan orangtua sudah merasa tidak mampu lagi maka persoalan ini harus dikonsultasikan kepada ahlinya. Membiarkan anak terus bermain gadget hanya akan menambahnya semakin kecanduan.

5. Tekankan pentingnya bersosialisasi kehidupan nyata

Ajak remaja berbicara dan katakanlah bahwa main game, chatting dan melakukan komunikasi di dunia maya ( online ) memang sangat mengasyikkan. Namun tekankan dan jelaskan bahwa berinteraksi tentu jauh lebih asyik jika langsung di dunia nyata.

6. Sosialisasikan cara memakai gadget dengan tepat

Melarang bukanlah cara yang bijak melainkan harus disertai dengan alasan dan pejelasan yang tepat dan dimengerti. Berikan penjelasan cara bijak menggunakan gadget selain untuk hiburan juga untuk mencari informasi dan ilmu pengetahuan.

7. Pemeriksaan mata secara rutin

Anak yang sering terpapar dengan layar gadget tentu sangat tidak baik karena akan mengganggu kesehatan matanya. Untuk itu orangtua perlu memeriksakan matanya agar diketahui sudah sejauh mana tingkat minjus atau plusnya.

Pendidikan di era kekinian dengan  hadirnya teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat juga tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga itu sendiri. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan pendidikan anak. Pola asuh orangtua sangat berpengaruh terhadap kepribadian maupun perkembangan seorang anak, baik itu secara psikologis maupun dalam hal pendidikan. Di era pendidikan kekinian saat ini para orangtua harus lebih berperan aktif dalam menciptakan pola asuh yang sesuai untuk anak, karena pendidikan sejatinya dimulai dari dalam rumah keluarga itu sendiri.

Lalu pola asuh seperti apa yang harus diterapkan keluarga itu sendiri?

1. Keteladanan

Di antara bentuk pendidikan yang paling utama adalah dengan teladan nyata. Mendidik anak akan efektif apabila ada contoh teladan yang nyata dari kedua orang tuanya. Sulit bagi anak untuk berperilaku jujur apabila orangtuanya mencontohkan kebohongan. Sulit bagi anak untuk berhenti merokok apabila menyaksikan orangtuanya selalu merokok.Demikian pula sulit bagi anak untuk rajin ibadah apabila orang tuanya tidak melaksanakan ibadah.

2. Pembiasaan

Pembiasaan yang dilakukan sejak kecil akan mampu menjadi pondasi kebaikan bagi anak hingga mereka dewasa. Untuk itu, biasakan anak – anak dengan perasaan diawasi dan dijaga oleh Allah/Tuhan agar mereka selalu berada dalam kebaikan dimanapun mereka berada. Sangat penting bagi anak untuk ditananmkan kesadaran akan adanya pengawasan dan penjagaan Allah/Tuhan pada diri manusia.

3. Mendongeng

Salah satu model pendidikan anak yang efektif adalah dengan kisah keteladanan. Jika anak – anak sudah mulai nalar, ajak mereka berdiskusi tentang kisah- kisah keteladanan tersebut agar mereka mengerti makna dan hikmah yang bisa diambil darinya.

4. Memanfaatkan Momentum

Diantara model mendidik anak adalah denagn memanfaatkan peristiwa atau kejadian yang baru saja dialami atau yang ada di sekitarnya. Bukan hanya peristiwa atau kejadian yang dialami sendiri oleh anak namun juga kejadian yang terjadi di sekitar lingkungan kehidupannya. Sebagai contoh sederhana, ketika anak kehilangan mainan, menjadi kesempatan bagi orangtua untuk mengajarkan sikap ikhlas, hati – hati sekaligus mengajarkan doa kehilangan. Ketika menyaksiakan ada kecelakaan lalu lintas, kesempatan bagi orangtua untuk menanamkan kesadaran kehati-hatian dalam berkendara.

5. Reward dan Punishment

Anak memerlukan pengakuan dan pujian atas kebaikan dan prestasi yang dilakukannya. Untuk itu orangtua haru sseimbang dalam memberiakn reward dan punishment kepada anak, karena keduanya diperlukan dalam mendidik dengan kadar yang tepat. Jangan hanya bisa menghukum kesalahan anak, namun juga harus bisa mengapresiasi kebaikan anak.
Reward dan punishment memiliki fungsi penting dalam mengajari anak berperilaku positif. Fungsi pertama ialah pendidikan. Pujian dan hukum bertujuan untuk memberikan pendidikan kebaikan baagi anak, yaitu mendidik agar nak – anak selalu terkondisi dalam kebaikan. Fungsi kedua adalah menajdi motivasi bagi anak untuk melakukan dan mengulangi perilaku positif.

Maka dari itu, pendidikan di era kekinian tidak bisa hanya disandarkan pada guru dan sekolah semata,  keluarga juga harus berperan aktif dalam memantau perkembanagan pendidikan anak. Dalam hal ini keluarga harus menyadari perannya sebagai agen sosialisasi pertama seorang anak, iklim yang dibangun keluarga di dalam rumah sangat menentukan perkembangan seorang anak itu sendiri. Apalagi di era saat ini dengan hadirnya gadget orangtua harus lebih aktif menjadi teman, sahabat dan kontrol bagi anak. Untuk itu pola asuh yang tepat sangat penting untuk diterapkan, karena anak merupakan cerminan dari pola asuh keluarganya yaitu orangtua.

#sahabatkeluarga

Referensi :
laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id.
https: img.okeinfo.net content 2017 07 25 481 1743517 bahaya-main

Dari Teras Rumah KKN 106 UTM Adakan Sosialisasi Pengolahan Singkong

Dari Teras Rumah KKN 106 UTM Adakan Sosialisasi Pengolahan Singkong Kuliah Kerja Nyata atau KKN selalu menjadi agenda wajib setiap tahun...